Sepucuk Surat Untuk Adika

Lebam sudah segala lekuk atmaku dilempari batu-batu api gelagatmu, adika, jikalau sudi waktu pun mampu mengubah aku menjadi jelaga. Hampir gila rasanya ketika kuingat kemarin ada binar lihai bersanandung perihal cinta dan kasih, laik sikap ikhwal menyikapi manusia sebab aku juga manusia, katamu. Sebab aku manusia pula, aku mengubah carut menjadi sabda Tuhan yang Agung, mengenal kekasih Tuhan tanpa pernah bertemu. Kau ajarkan itu, kan? Perlahan, kutahu kisahmu pula luluh lantak. Sial! Ada yang satu tak harus kutahu, tapi sudahlah, sudah terlanjur. Sekarang, memang kau tak membawaku lagi membuana, tak pula kita - maksudku aku boleh sekadar membaca diksi pada lolong jemarimu. Entah, aku memang tidak tahu perihal kecam di dadamu, salahku kah? Tahu kah kau, aku juga mengutuk diriku atas apa yang bukan perbuatanku terhadapmu, kuletakkan bahagiamu pada ujung mataku, agar gampang kau temukan jika butuh. Esok, jika gempita sedang berada pada puncak kepalamu, soraikanlah seorang saja, atau ajak seseorang penopang untuk menemanimu, pastikan dia bukan sesiapa dari butala macam aku. Begitu pun, jangan ceritakan lagi tentang lara. Aku sudah tak pandai meramu santau menjadi Anyelir. Kau yang menjadikanku asing, pura-pura, dan orang jahat. Maka, aku akan jahati rupa serumpun dengan kau, dan kali ini enggan rasanya menyematkan maaf, kubiarkan hatiku merayakannya, seperti kau merayakan derai-derai hujan di mataku.

Comments

Post a Comment

Popular Posts