Dan Bandung

Halo, kamu pernah baca dongeng putri tidur? Atau Aladdin? Keduanya sama-sama menemukan cinta di akhir cerita. Rumit. Aku juga tidak ingin kisahku semengenaskan itu setelah kurasa usia di atas 22 tahun luar biasa berjuangnya. Perihal cinta kuserahkan semua pada Yang Maha membolak-balikkan hati.

Sekarang aku sedang di kota kelahiran, di sini matahari senang sekali pamer cahaya - gersang, riuh. Di rumahku, ada ibu, bapak, dan adik-adik, teman-teman juga ada. Sepatutnya aku merasa aman, cukup aman dibandingkan di perantauan jika aku memaksa kembali pada pandemi ini. Namun, ada yang kurang, sial, aku baru menginjakkan kaki di Bumi Pasundan kurang dari dua tahun, tapi rupanya ia benar-benar masuk di relung.

Dan Bandung
Bagiku bukan cuma
Urusan wilayah
Belaka
Lebih jauh dari itu
Melibatkan perasaan
Yang bersamaku
Ketika sunyi
Lirik itu benar adanya, kukira hanya sebatas lagu untuk masyarakat fanatik Bandung. Aku juga bukan penggemar kota itu, aku mencintai kota-kota yang pernah aku jelajahi, tapi Bandung berbeda.
Seharusnya, aku sedang mengetik cerita ini sambil memakai selimut ditemani camilan. Oh, ini malam Sabtu, atau paling tidak, aku sedang nonton Netflix di layar ponsel temanku. Teman, yang kebersamaan dengannya harus berakhir di akhir Maret. Kupikir kami akan melewati Ramadhan seperi tahun lalu, berburu makanan di sepanjang Gegerkalong, taraweh di masjid terdekat, atau sekadar masak Indomie saat uang bulanan sudah menipis. Dia sedang apa ya? Kapan lagi bisa bertemu? Hahahaha.
Ah.... Tuhan, Kau buat haluan lain dari rencana-rencanaku, tapi aku tetaplah pengikutMu yang setia, yang akan tetap percaya bahwa takdirMu lebih baik daripada hayalanku. 
Aku tidak ingin menceritakan lebih tentang Bandung dan sesiapa lainnya. Biar yang lainnya kusimpan dalam diam.

Comments

Popular Posts