Hai, Bulan.
- -
Chandra
“Chandra Putra Langit Nugraha!”
Ah
siapa lagi yang mau membuang-buang waktu memanggil nama sepanjang itu kalau
bukan Aluna. Wanita aneh yang selalu skeptis sama kebanyakan cowo sedang
mengecak pinggang di depan mejaku. Setiap pagi seperti ini, entah lah kenapa ia
tidak pernah lelah marah-marah.
“ Masih pagi kali, Lun”
“Bayar dong uang kas lu numpuk nih, 50
ribu!”
“Ga punya uang gue.”
“Apaan! Tadi malem Real Madrid menang 2-1
lawan Barca, cepetan sini lu menang taruhan kan?”
“Dih!”
Aluna si bendahara yang paling
cerewet di muka bumi berhasil memenangkan duel uang kas hari ini, dengan
keadaan terpaksa aku merelakan dia mengambil uang itu langsung di saku
kemejaku. Tidak ada yang bisa menghentikan kalau ia sedang murka perihal
keuangan. Pagi itu bukan cuma aku yang malang, Deni dan Aby juga, seorang Aby
preman sekolahan keok di depan Aluna, tujuh puluh lima ribu melayang, wajahnya
pasrah.
Aluna Suci Asmaradanta, nama itu
terukir di halaman akhir buku catatanku, aku menyingkatnya ASA dan menjadi kata
favorit yang sering kutuliskan di bait-bait puisi. Ia juga menjadi asa selama satu
semester terakhir di SMA. Aluna tidak cantik, hanya saja aku tak pernah bosan
melihat wajahnya, kata orang dia manis, tapi aku selalu menyalahkan orang yang
memujinya hanya karena agar mereka tidak jatuh cinta dengan Aluna, dan ternyata
cara itu berhasil untuk membuat beberapa teman yang ingin mendekatinya akhirnya
menjauh. Namun, tidak semudah itu, hatinya sudah ada yang mengisi oleh
seseorang yang setiap Selasa selalu dipandangnya dari celah pintu kelas, dan
hari ini tepat hari Selasa sehabis kelas Biologi.
“Oh, Zari
Bagaskara, 12 IPA 2, Palm Residence nomor 13, ekskul pramuka, hobi naik gunung,
nomor sepatu 42, motor Honda Beat putih ijo, plat B 1515 ACD, and he’s already
taken.” Sheila si nomor satu perihal pria-pria tampan sekolah mengejutkan Luna
yang sedang termangu menatap dari kejauhan lelaki berambut messy.
“Syel, ih!”
“Kalau suka
tinggal bilang aja sih, ribet banget.”
“Ih, engga
engga, gue tuh lagi ngelamun aja.”
“Ya elah, Lun.
Every body knew you love....”
“Syel, kantin
yuk?” Ajakku
“Kalian mau ke
kantin? Titip dong.” Pinta Aluna dengan wajah mengiba.
“Kalau mau rokok
tuh ada di tas gue, ambil aja, koreknya sama Deny.”
Koridor sekolah adalah tempat favoritku, desainnya tak pernah membuatku bosan, di setiap tiang ada satu karya lukis sumbangan dari beberapa siswa yang berbakat melukis, tepat di tiang ke lima ada lukisanku yang baru kuselesaikan tepat dua minggu yang lalu, lukisan bergambar bulan sabit yang terang menerang dan bumi dengan dua sisi yang berbeda, di bawahnya tertulis “Asa tak pernah padam”. Aku hanya terinspirasi dari Aluna, sesuai namanya, dia Bulan maka dari satu semester yang lalu aku memutuskan untuk mengidolakan bulan. Aku mengidolakan apa pun darinya, kecerobohannya, pelupanya, cerewetnya, antipatinya, segala hal tentangnya.
Syaquila Sheila, sahabatku sejak
orok. Kata orang kami mirip, banyak yang mengira bahwa Sheila adalah adikku
atau yang sudah mengenal akan dengan semangat menjodohkan kami berdua, tak
terkecuali orangtua. Ibuku sangat menyukai Sheila dan begitu juga ibunya
Sheila, tapi tetap pintu terbuka hanya dengan kunci yang pas, dan bukan Sheila
yang memegang kunci itu.
“Sekali-kali
gambarin gue kek, Nug.”
“Ntar deh, pas
lu ulang tahun.”
“Giliran Aluna
aja digambari tanpa request.”
“Gue ga semangat
kalau muka lu yang digambar.”
“Ya elah.”
Percakapan kami
berhenti sejenak disebabkan hadirnya semangkok mi ayam dan es teh manis kesukaan
kami berdua.
“Nug, cape ya
kaya gini?”
“Gue sih menikmati,
tau deh elu.”
“Sakit Nug, gue
kadang ga tahan ngelihatnya. Lu ga tau aja, kalau soal rasa cewe tuh bisa lebih
dalem perasaannya.”
“Hmmm....
Berarti perasaan Aluna ke Zari dalam banget ya? Sama kaya lu ke Zidan.”
“Zidan?”
“Iya, Zidan anak
basket.”
“Bukan Zidan,
bukan.”
“Lah terus
siapa? Kan selama ini gue taunya elu suka sama Zidan.”
“Bukan Zidan,
Nug, tapi Aby.”
Detik itu aku merasa telah
menjadi sahabat terburuk bagi Sheila, Aby berhasil kujodohkan dengan sekretaris
kelas sepekan yang lalu tanpa pernah kuketahui bahwa Sheila sahabatku sendiri
hatinya terluka parah. Aku ingin sekali memaki Sheila yang tidak pernah
menceritakan perihal orang yang sebenarnya disukainya, tapi hari itu aku lihat
air matanya mengalir dan aku mulai membenci diriku sendiri.
“Enam belas
tahun kita sahabatan, dan gue engga tau kalau lu suka sama Aby? Oke, mungkin lu
ga nganggap gue sahabat lu lagi, cari sahabat yang lain yang mau lu bohongin.”
“Nug, Nug”
Sheila kutinggalkan sendiri dan
ia masih saja memanggil namaku. Aku kecewa sekali hari itu dengannya, padahal
ia yang mencetuskan janji untuk tidak merahasiakan perihal cinta tapi ternyata?
Di suatu sisi aku juga kasihan dengannya, sungguh mencintai sendirian itu tak
ada nikmatnya. Semenjak saat itu aku dan Sheila menjadi asing, asing
seasingnya, seperti tidak pernah ada kisah yang pernah terjadi.
Sebulan lagi ujian nasional
tiba, hati siapa yang tak cemas memikirkan nasib selanjutnya, waktu terus
berjalan sementara aku masih mengiba pada alam agar siang dan malam tak beralih
dengan cepat. Tidak tahu langkah apa yang harus kuambil ke depan, seakan-akan
putus asa dengan hari tua. Terlalu naif memang untuk remaja tujuh belas tahun
sepertiku yang tak ingin lagi melihat masa depan, bukan tanpa sebab, bagiku
menjadi dewasa dan tua adalah hal yang paling tidak menyenangkan, aku bisa
lihat hal itu dari betapa kerasnya masa tua ibu. Ibu berjuang sendirian setelah
ditinggal pergi oleh bapak yang memilih wanita jahannam itu untuk
mendampinginya. Sampai sekarang aku tidak mengerti apa istimewanya si pelacur
itu? Ibuku tak jelek, ia cantik, jauh lebih cantik dari mantan-mantan pacarku,
ibuku juga ahli memasak, menjahit, dan juga ia tak takut kecoa. Aku juga sudah
lupa wajah bapakku seperti apa, untung saja kata orang aku mirip ibu.
“Nug, kamu udah
mikirin masuk jurusan apa? Ibu maunya kamu kuliah, biar makin pinter, biar
makin ngerti mana yang baik dan yang buruk. Ibu bangga kalau anaknya sarjana,
nanti ibu pasang foto kamu di ruang tamu pakai toga.”
“Tapi bu, Nugi
mau kerja aja biar bantu ibu cari uang buat kuliahnya dek Rani tahun depan. Dia
pengen jadi arsitek kan bu?”
“Nugi dan Rani
itu tanggung jawab ibu. Ibu akan lebih bangga lagi kalau kalian sukses dari
tangan ibu sendiri. Setiap anak punya rezekinya masing-masing, mungkin tahun
ini rezeki kamu untuk kuliah. Ibu sudah nabung buat kuliah kamu, ga perlu
khawatir. Kamu mau ya nak?”
Meja makan kini hening, hanya
ada suara-suara sendok dan piring yang beradu. Perkataan malam itu sedikitnya
membuka sedikit mataku untuk menjadi seseorang di masa depan. Aku juga tidak
tahu ini demi siapa selain ibu.
-
Seville, Mei 2019
Teruntuk: Aluna Suci
Asmaradanta
Bersamaan dengan surat ini, saya menyampaikan
permintaan maaf untuk keterlambatan pesanan yang Anda pinta seminggu yang lalu. Wah
gila formal banget ya gue? Apa kabar, Lun? Gue lagi di Seville nih di Spanyol
liburan musim panas, alhamdulillah ada dana dari tabungan selama gue kerja.
Seville indah banget, ga kalah indah dari Paris, tapi gue tetap rindu Jakarta. Dua
hari yang lalu gue baru dapet buku Les Misarble-nya, emang susah banget ya
dicari? Hehe, tapi bukan Chandra namanya kalau ga bisa dapetin apa yang gue
mau, kecuali elu, eh skip skip. Mungkin lu butuh juga, jadi gue kirim beberapa
buku lainnya dan beberapa lukisan dari berbagai sudut kota di Prancis dan
Seville. Gue yakin suatu saat lu pasti bisa nginjakkan kaki di Paris, rien n’est
impossible, n’est-ce pas?
Musim panas di Seville
ternyata lebih indah dari Madrid, sebuah kota yang menjadi saksi titik terendah
selama hidupku. Sudah empat tahun aku menetap untuk bekerja paruh waktu sebagai
pelukis dan mahasiswa, aku membenci hidupku setelah ibu meninggalkanku dan
Rani. Aku sering ingin menyerah pada takdir, aku tak sanggup kala itu. Untuk
menyelamatkan hidupku saja terasa berat ditambah lagi adikku, sungguh ia tak
bersalah atas kejadian ini, bagaimana bisa ia menjalani hidupnya sendiri?
Terlalu egois rasanya kalau kumeninggalkan Rani sendirian. Rani menjadi
alasanku untuk bertahan.
Aku dan Rani sama-sama
berjuang untuk mewujudkan cita-cita ibu, ia ingin anaknya sarjana, dan benar,
ibu, harapanmu sebentar lagi akan terwujud, tahun depan aku akan wisuda, bahkan
seharusnya kau bisa lebih berbangga karena aku merupakan salah satu lulusan
terbaik di salah satu kampus di luar negeri, dan adikku yang paling
kubanggakan, Rani ia harus mengubur impiannya untuk menjadi arsitek. Bu, Rani
di masa depan adalah seorang perancang busana. Entah aku harus berterima kasih
kepada bapak atau tidak, tapi darah seninya mengalir di tubuh kami, untuk yang
satu itu hendaknya aku bersyukur. Pak, lihat yang sudah kau campakkan!
“Daddy, tengo hambre!”
Sebuah raut yang
menjadi penyemangatku menjalani hari-hari. Oh ya, kuperkenalkan dia anakku
Alyssa, umurnya baru lima tahun. Aku sudah jatuh cinta dengannya sejak pertama
kali bertemu, ah aku jamin tidak akan ada yang bisa menghindari paras lucu
Alyssa. Di saat aku harus kehilangan ibu, Alyssa muncul di bumi sebagai
pengganti soraiku yang entah sudah berapa dalam dikubur. Tak hanya ibu, aku
kehilangan seseorang lainnya, sahabatku Sheila, nyawanya telah direnggut pada
sebuah kecelakaan maut, naas ia sedang mengandung tujuh bulan. Sebuah keajaiban
datang setelahnya, bayinya dinyatakan selamat. Sheila tak mempunyai siapa pun,
ia yatim piatu dengan seorang kakak laki-laki, suaminya sama berengseknya
dengan bapakku. Ia tak ingin mengurus anaknya, sedangkan kakak laki-lakinya
hanya seorang buruh pabrik, ia tak sanggup, maka dari itu Alyssa aku yang merawat,
Alyssa Arini Nugraha, ia sepenuhnya milikku, demi apapun aku tak akan pernah
membiarkan siapapun menyakitinya.
“Comamos pizza!” Ajakku semangat.
“Vamos daddy, me gusta la pizza.”
Sedih:’(
ReplyDeletePengen tau lanjutannya... Atau seluk beluk keseharian tokoh-tokohnya...
ReplyDelete