Siapa?
Sudah hampir satu bulan malam menutup wajah aslinya, sudah hampir satu bulan juga aku tak menikmati Sukasari di kala tawa membuncah atau sedih mengerang. Baru kali ini aku setia dengan Gegerkalong yang hiruk pikuknya terhentikan dua pekan lalu. Dinginnya masih sama seperti setahun lalu untuk pertama kalinya aku peluk sukmanya.
Ada yang masih biram di antara senyumku di sini, bukan sebab rindu ataupun raga nun jauh di sana yang ingin kutanyakan kabarnya. Ini tentang....
"Hebat, kau bahkan tak pernah memintaku hadir lagi."
Bagaimana bisa dia tersenyum begitu manis dengan pertanyaan yang menghentak itu? Ah, dia datang tanpa permisi.
"Heee anu.... Aku sudah bahagia sekarang."
"Ya, begitulah aku, yang dipanggil saat duniamu runtuh, saat dia yang paling kau istimewakan membuat derai di pipimu, memporak-porandakan hari-harimu. Namun, di saat kau menebarkan seribu senyum dan gelak tawamu yang paling bahagia, kau bahkan tak mengingat tiga huruf dari penggalan namaku itu."
Aku melihatnya tersenyum lagi, senyum serupa milikku.
"Beruntung sekali dia yang hanya bertemu denganmu bukan denganku. Aku ingin juga bertemu dengan dia dan kupastikan seribu caci maki akan kuucapkan."
"Kau bisa bilang begitu karena tidak tahu bagaimana cinta terbentuk, bagaimana cinta yang kumiliki sekarang."
"Ah... Cinta... Cinta tai kucing! Tidak ada cinta yang membuatmu terluka. Tanya hatimu, sudah separah apa dia kau buat? Sudah memakai logika untuk cintamu itu belum?"
"Justru aku sedang memakai logika."
"Lalu? Kenapa masih? Berarti logikamu itu tidak jalan!"
"Hey...."
Dia pergi begitu saja, entah ke mana, apa akan hadir lagi atau tidak. Aku juga tidak tahu kapan harus memanggilnya. Dia yang seluruhnya memahami segala seluk belukku, ruam-ruam yang pernah ditampar caci maki, dia memelukku dengan hadirnya. Namun, aku tidak salah memperlakukannya, dia kuhadirkan hanya untuk mengobati lukaku, tidak yang lainnya, tidak pula huru-haraku, tidak untuk kuperkenalkan dengan sesiapa lainnya di hidupku.
Maaf, sepertinya kau akan kutinggalkan di sini nantinya tanpa ingin kujemput, tanpa ingin kutemui lagi.
Ada yang masih biram di antara senyumku di sini, bukan sebab rindu ataupun raga nun jauh di sana yang ingin kutanyakan kabarnya. Ini tentang....
"Hebat, kau bahkan tak pernah memintaku hadir lagi."
Bagaimana bisa dia tersenyum begitu manis dengan pertanyaan yang menghentak itu? Ah, dia datang tanpa permisi.
"Heee anu.... Aku sudah bahagia sekarang."
"Ya, begitulah aku, yang dipanggil saat duniamu runtuh, saat dia yang paling kau istimewakan membuat derai di pipimu, memporak-porandakan hari-harimu. Namun, di saat kau menebarkan seribu senyum dan gelak tawamu yang paling bahagia, kau bahkan tak mengingat tiga huruf dari penggalan namaku itu."
Aku melihatnya tersenyum lagi, senyum serupa milikku.
"Beruntung sekali dia yang hanya bertemu denganmu bukan denganku. Aku ingin juga bertemu dengan dia dan kupastikan seribu caci maki akan kuucapkan."
"Kau bisa bilang begitu karena tidak tahu bagaimana cinta terbentuk, bagaimana cinta yang kumiliki sekarang."
"Ah... Cinta... Cinta tai kucing! Tidak ada cinta yang membuatmu terluka. Tanya hatimu, sudah separah apa dia kau buat? Sudah memakai logika untuk cintamu itu belum?"
"Justru aku sedang memakai logika."
"Lalu? Kenapa masih? Berarti logikamu itu tidak jalan!"
"Hey...."
Dia pergi begitu saja, entah ke mana, apa akan hadir lagi atau tidak. Aku juga tidak tahu kapan harus memanggilnya. Dia yang seluruhnya memahami segala seluk belukku, ruam-ruam yang pernah ditampar caci maki, dia memelukku dengan hadirnya. Namun, aku tidak salah memperlakukannya, dia kuhadirkan hanya untuk mengobati lukaku, tidak yang lainnya, tidak pula huru-haraku, tidak untuk kuperkenalkan dengan sesiapa lainnya di hidupku.
Maaf, sepertinya kau akan kutinggalkan di sini nantinya tanpa ingin kujemput, tanpa ingin kutemui lagi.
Comments
Post a Comment