Halo, Nara

Ia meliuk, melengkuk, menggerus raganya sendiri
Di persimpangan kulambaikan tangan
Sebagai sebuah isyarat perpisahan
Nun, di sana ia akan sama bahagianya
Bersama dengan yang dikira santau
Ia hanya butuh waktu untuk terbiasa
Seperti dahulu, saat pertama mengenal aku
Yang beribu detik menebar pilu.

"Hahahaha dasar bucin!"
"Bucin? Kamu cuma tidak paham tentang puisi. Banyak orang yang juga tidak bisa membedakan mana karya mana yang cuma pamer kesedihan saja."
"So, yang kamu ungkapkan tadi apa?"
"Menurutmu?"

20.00
Apa yang bisa dinikmati di Belawan selain melihat kapal yang bersandar di pelabuhan? Kecamatan di Utara kota Medan membuat visualku menari-nari kegirangan, di sini ada kapal, bulan dan bintang di atas kepala, juga dia. Maaf kalau nantinya kau kubuat masuk angin, tapi kau harus melihat ini. Setengah windu setelah kata pamitku dia masih menjadi rumah untuk kembali, sebab seorang perantau akan tahu mana tujuan tempatnya berpulang.
Malam ini terasa berbeda, ia anggun sekali dengan blus krem dan sweater putih, rasanya aku tidak ingin berhenti tersenyum. Namun, sesak masih terasa, entahlah perasaanku seluruhnya beradu, di suatu sisi aku ingin menghabiskan malam ini dengannya, di sisi lain aku ingin mendorongnya ke laut hingga mati, kalutku kembali lagi.

"Kamu mau ke pasar malam?"
"Kelihatannya asyik, tapi aku tidak melihat ada pasar malam dari tadi"
"Apa yang kamu harapkan dari Belawan selain lautnya? Kita ke Marelan saja."
"Saya pengikutmu malam ini.

Segalanya semakin sesak, hilir mudik muda-mudi, bianglala, komudi putar, suara musik remix, tong setan, dia. Apa saja yang membawaku malam ini, aku hanya mengikuti intuisiku, aku sebenarnya tidak tahu mau bawa dia ke mana, hampir seluruh kota ini sudah pernah kami jamah, mungkin ini tempat terakhir yang kukunjungi dengannya.

22.00
Tidak ada kata larut di Marelan, semua mata masih ingin memandang, toko durian masih saja menerima pelanggan, restoran cepat saji makin ramai dikunjungi remaja yang ingin memanfaatkan wifi gratis, di pasar malam juga masih ramai, tapi cukup seharusnya kami sudah harus pulang.

"Ngantuk"
"Ayo pulang, ga baik calon pengantin keluar larut malam"
"Hehehe"
"Nara, aku minta maaf kalau minggu depan aku tidak hadir di pernikahanmu."
"Kenapa? Kamu masih sakit hati?"
"Tidak, Nara."
"Lalu?"
"Aku memang sudah mengikhlaskanmu tapi kamu mungkin lupa kalau aku manusia, dan perasaanku masih perasaannya manusia."
"Maaf"
"Tidak perlu minta maaf, kamu hanya perlu menikah minggu depan dan bahagia selamanya. Terima kasih sudah mengabulkan permintaanku hari ini."

Terlalu naif aku menganggapnya rumah sedangkan ia hanya mengizinkanku untuk menjadi tamu. Nara sedang bahagia-bahagianya, aku juga harus begitu, ini pesan Nara saat terakhir kali aku menghantarkannya pulang. 
**
Kudengar Nara besok akan melahirkan, semoga anaknya sama cerdasnya seperti ibunya.

Selamat malam, Tokyo.



Comments

Popular Posts