Renjana

Kemarin sempat kubertanya pada Tuhan tentang gelap yang tak kunjung terang, tapi detik itu tak satupun jawaban didapati. Hari-hari berlalu, wajah silih berganti. Namun, tetap jiwaku masih saja dalam gulita, hingga suatu petang secercah harapan untuk bisa kubagikan dalam cerita.

"Permisi, apakah benar rumah saudara Angga Wicaksana?"
"Iya, mas, saya Angga."
"Ada kirimin, pak. Mohon diterima."
"Terima kasih."

Sebuah kotak kecil bersampul hijau tosca, warna kesukaanku. Siapa ya? Aku tidak mengenal nama pengirimnya, tapi ini paket dari luar negeri, dan di dalamnya juga ada sepucuk surat berwarna senada.

Kepada yth. Bapak Angga Wicaksana

Assalamu'alaikum.
Sudah lama rasanya tidak saling bercerita, aku juga sudah lupa topik apa yang terakhir kali kita perbincangkan, dan sungguh aku juga sudah mulai lupa rupamu. Sudah tujuh belas tahun, bukan? Akhirnya Ibu mengizinkanku untuk menyapamu meski dalam surat.
Ayah, selamat ulang tahun. Aku sangat merindukanmu. Ayah, anak gadismu sekarang berusia dua puluh satu tahun, semoga kau tak pernah melupakanku. Tinggiku 167 cm, rasaku cukup tinggi untuk keturunan Indonesia, tapi tetap saja di sini aku terlihat lebih kecil daripada teman-temanku. Kata Ibu, aku mirip denganmu, tapi bibir dan alisku mirip Ibu. Dia cantik, kan? Sekarang aku sedang berusaha mengerjakan tugas akhirku, aku mahasiswa di salah satu universitas terbaik di Marseille jurusan keguruan, aku ingin menjadi guru seperti Ayah! Tahun depan aku akan segera lulus dan kuharap Ayah bisa datang di acara wisudaku. Aku ingin sekali.... Oh ya, aku juga mengikuti kegiatan volunteer untuk lingkungan hehehehe. Sekali lagi selamat ulang tahun. Kau tetap menjadi Ayah terhebatku, semoga hari-harimu selalu berada dalam kebahagiaan. Aamiin.

Kadoku harus dipakai setiap hari! :)

                                                                                                                       Putri kecilmu
                                                                                                             Dahlia Wicaksana Leroux


Lihat! Ini putri kecilku yang bertumbuh. Benar ia mirip denganku, bibir dan alisnya mirip sekali dengan Rosie, Ibunya. Kuyakin ia sama bijaksananya seperti Rosie. Rosie, wanita yang pergi meninggalkanku tujuh belas tahun yang lalu bersama Dahlia yang baru berumur empat. Ah... Aku tak ingin mengingat kejadian itu, aku sedang gembira sekarang. Sebuah jam tangan pemberian dari orang yang kucari keberadaannya selama ini, anakku.

"Ayah, ini siapa?"
"Ini kak Lia, kakaknya Firza."
"Kakak Lia kakak Iza, kak Lia cantik, Ayah."
"Anak Ayah memang cantik dan ganteng."
"Foto kak Lia ditaroh di sini ya Ayah, di samping foto Iza. Kakak Lia-nya mana?"
"Iya sayang, nanti kita ketemu kakak. Sebentar lagi."
"Asik.... Iza punya kakak"

Firza, anak lelakiku yang berusia enam tahun adalah penyemangatku selama ini. Dahlia dan Firza lahir dari rahim wanita yang berbeda. Firza tak berdosa, akulah pendosa yang paling hebat itu.

Comments

Popular Posts