Sewindu Sendu


Bagaimana jika cinta tak seutuhnya ditujukan untuk yang seharusnya menerima? Bagaimana jika ego membalikkan takdir yang dengan terluntang-lantung dibangun oleh raga? Siapa yang salah? Hidupku terombang-ambing karena rasa.

Sewindu yang lalu rasa itu mulai muncul dari sebuah perlakuan kecil di pinggir danau, memakai kemeja berwarna senada dibalut tawa terpingkal-pingkal sebab lakon komedi favorit kami. Kami bukan remaja pintar yang menghabiskan waktu pulang sekolah untuk pergi kursus atau belajar dengan rekan sebaya, kami remaja yang haus kebebasan untuk alasan apapun kami tidak ingin terikat pada aturan-aturan payah. Kala itu hujan, tak cukup lebat memang tapi cukup untuk membuat senyumannya lebih manis, dengan rambut acak-acakan sehabis diguyur hujan. Namun, rasaku udara turun drastis hari itu, hujan di daerah pegunungan adalah hal yang tidak kusukai. Badanku mulai meringkuk kedinginan, dan dia masih berdiri membelakangiku di depan pondok mengkhawatirkan motor yang diparkirkan cukup jauh.

“Ra, motor gue gimana ya? Huh dingin banget lagi, pasti si Jago kedinginan tuh. Huuh... Lo ga kedinginan, Ra? Tanya Zari sembari menadah hujan.
“Ra, lo kok ga jawab sih?”
“Lo kok bego banget sih mikirin motor? Ini gue kedinginan dari tadi!” Teriakku kesal.

Zari berbalik lalu menggosokkan tangannya dan tanganku, sesekali menatapku dan melemparkan senyum seakan mengisyaratkan bahwa aku akan baik-baik saja selama dia di sini. Hatiku jatuh sejatuhnya, dia begitu istimewa petang ini, istimewa dengan ketololannya. Sekarang bernapaslah dua orang manusia yang memiliki rasa yang berbeda, di antara syahdunya suara rintik hujan ada jantungku yang menderu, tapi kupastikan dia tak begitu, sebab aku hanyalah perempuan liar baginya. Tidak ada wanita yang mampu menebus hatinya Zari setelah Kanaya.

Kanaya yang selalu diceritakannya sebagai perempuan cantik bertubuh pendek. Zari pernah bercerita bahwa dia kerap sekali mengetiakkan Kanaya ketika mereka berjalan, yang sudah pasti tidak akan bisa ia lakukan terhadapku. Aku tahu betul bahwa karakteristik Kanaya adalah yang paling difavoritkan Zari, Kanaya memiliki lesung pipi tak begitu dalam di pipi kirinya yang selalu melempar senyum ramah ke siapa pun yang menatapnya. Aku pernah beberapa kali bertemu dengannya dan kuyakin bahwa bersamanya Zari melewati hari-hari paling bahagia, dan aku pun begitu ketika kulihat Zari senantiasa menebar tawa. Hubungan mereka adalah yang paling awet di antara teman satu sekolah yang lainnya, tak ada satu guru pun yang tak tahu kisah mereka. Meski gunjingan terus ditujukan kepada Zari yang dianggap tak pantas mendapingi Kanaya sebagai murid berprestasi kesayangan sekolah. Namun, Kanaya juga tak mengindahkan semua itu, ia mencitai Zari, sangat mencintainya. Setauku seperti itu hingga mereka menghabiskan waktu selama lima tahun bersama-sama.

Hal yang satu pasti, rencana Tuhan tak pernah salah alamat meski kita sibuk berlari menuju tujuan yang kita harapkan tapi Dia yang berkehendak, kita bisa apa? Hanya menunggu jika takdir baik yang lain datang pada kita. Setelah lima tahun menebas masa, Kanaya menyerah pada kisah mereka. Malam itu, ada sepasang mata yang sekuat tenaga membendung tangis, dan kulihat jiwanya masih berkelakar bahwa lelaki tak pantas menitikkan air mata.

“Lima tahun, Ra... Lima tahun.”

Aku melihat matanya tak mampu lagi menahan segala sakit hati, ia terduduk lemas . Aku hanya bisa memeluknya agar ia merasa lebih nyaman, suaranya parau bercerita bahwa gadis itu akan dipinang pekan depan oleh seorang Pilot pilihan orangtuanya. Hatiku pun hancur bukan sebab Kanaya tapi karena Zari sedang terluka hari ini. Ia memelukku semakin kencang dan melepaskan, lalu pergi begitu saja. Motornya melaju kencang tanpa pamit entah ke mana.

                Dara, gue di kampus hari ini. Jangan panik.

Sebuah pesan yang membangunkan tidurku yang lelah, bagaimana tidak? Semalaman aku hampir tak bisa tidur dibuatnya, aku tidak tahu apa yang dilakukan anak itu, barangkali pikirku pagi ini aku akan mendapatkan kabar bahwa dia tewas bunuh diri. Untung saja Zari masih waras, ia lebih memilih ke kampus untuk berjumpa dosen pembimbing. Namun, nasib malang seakan sedang mengikuti langkahnya, miris judul skripsinya ditolak dosen pembimbing, aku tahu betul bagaimana perasaannya. Di bangku panjang di bawah pohon mangga dia duduk menunduk, aku mendengar keluhnya, makalah outline diremas dan dikoyak-koyakkannya hingga semua hanya puing-puing tak berarti, tidak juga ada harapan di dalamnya kini. Kerut di dahi terus saja tergambar, tak hilang sedetik pun, bibirnya melengkung ke bawah, sesekali kurasakan ada yang menetes di atas bahuku. Dia hanya lelaki, sekali pun tegar ia mampu merapuh.

Terbayang, Zari yang kukenal di OSPEK sekolah sebagai bocah periang yang tak segan-segan menggoda guru muda, sekarang sedang di titik terendah dalam hidupnya. Ia selalu menghiburku di saat aku harus kehilangan Hayati sahabat karibku setahun lalu dengan tingkah bodohnya, dengan hal yang tidak bisa diduga oleh manusia normal lainnya, ia mampu menghapus kesedihanku  yang teramat parah. Kini giliranku untuk menjadi sandarannya, apa saja akan kulakukan agar dia kembali seperti Zari yang kukenal.

“Ra, gue ga bisa di sini lagi. Gue ga tau lagi apa yang harus gue lakuin di sini.” Tegas Zari terisak.
“Lo mau ke mana? Lo masih punya gue di sini, apapun yang lo mau gue akan ikuti asal lo tetap di sini”
“Gue ga kuat, Ra. Gue akan pergi ke mana langkah membawa kenyaman buat gue. Lo masih akan tetap jadi sahabat terbaik gue sampai kapanpun. Gue hanya butuh waktu untuk sendiri.”
“Lo jangan ke mana-mana.”

Zari mendekap tubuhku erat sekali, kurasakan tangannya membelai rambutku. Sekarang hal buruk itu terjadi padaku, entah apa yang akan kurasakan ketika harus memulai masa yang baru tanpa Zari, hari-hari itu akan selalu terkenang. Sesulit ini kah takdir kami? Di saat aku harus menahan rasa cinta yang teramat kepada sahabatku yang sekarang tengah terluka karena perempuan lainnya, ia pun begitu, hatinya tak berbentuk lagi. 

“Gue sayang sama lo.” Bisikku sambil terisak-isak.
“Gue lebih sayang sama lo.”

Ia melepaskan pelukannya, diusapnya air mataku dan memberikan senyuman terakhir sebelum melaju. Ku pandangi pundaknya menjauh dengan motor kesayangan itu, hingga tak ada setitik pun tersisa. Di sini hanya ada aku dan kenangan tentangnya, kakiku tak sanggup melangkah ke mana-mana, di segala sudut kota terpaut kisah kami berdua.

Minggu-minggu pahit kuhadapi sendiri, tak ada kabar dari Zari, segala tentangnya hari ini tak bisa kuramalkan. Tiap kali beranjak aku hanya mampu membawa pas foto 3x4 yang katanya akan dijadikan foto untuk sidang. Sebegitu dirancangnya masa depan itu, terlihat sempurna tanpa ada cela untuk dirubuhkan, hanya saja dia lupa bahwa kami hanya insan yang segala diatur oleh sang pemilik segalanya. Aku juga harus berjuang sekeras-kerasnya untuk mengumpulkan asa demi asa yang makin lama makin teriris sepi dan rindu, kemudian asa itu pudar dan harus dicari lagi. Di danau samping taman bunga, tempat kami biasanya melampiaskan kesal dan bahagia juga tak luput dari tempat pencarianku. Namun, ia tetap tak kunjung menjawab panggilanku, setiap hari hingga aku lelah menahan rindu sendirian bertahun-tahun. Selama dua tahun ini kerap ada yang ingin kuceritakan pada Zari, Sedihku dan rasa yang paling bahagia ketika aku lulus dengan predikat terbaik. Janjinya, ketika mampu kutunaikan tugas sebagai mahasiswa ia akan membuatkanku sembilan lampion kecil berwarna biru satunya lagi untuknya ketika ia juga mampu menyelesaikan beban itu. Jika ia hadir hari ini juga, aku tak akan meminta lampion padanya, juga tidak apapun. Aku hanya ingin berada di dekatnya sebab rindu sekarang telah mencabik-cabik sukmaku.

November 2017

Sore ini, langit mulai menoranye, awan berarak mengajakku untuk menari bersamanya. Kantor mulai ditinggali karyawan dengan senyum sumringah sebab ini akhir pekan. Biasanya mereka akan berjumpa dengan orang yang disayanginya, raut-raut rindu yang akan terbayarkan terpancar sangat jelas. Sementara aku pulang hanya untuk melampiaskan lelah, kadang meratapi sunyi sebab hariku-hari tak seperti ketika Zari masih di sini. Aku sedang teramat rindu dengannya hari ini, maka sore ini juga aku akan ke danau membawa kukis kesukaannya.

Tak banyak yang berubah di sekitar danau dari terakhir kali aku di sini sepuluh bulan yang lalu, hanya saja rakit di tepian yang aku dan Zari buat sudah tidak ada lagi. Memori selalu membawaku ke belakang, di danau ini harapan kami sampaikan. Tepat hari ini, umurku genap dua puluh empat tahun. Tak banyak yang ingin kupinta, aku hanya ingin orangtuaku senantiasa bahagia dan melihat Zari kembali.

“Selamat ulang tahun.” Setangkai bunga diberikan dari seseorang dengan senyum lebar.
“Lo..?? Kok?” Tanyaku heran.
“Gue selalu menghabiskan waktu di sini, tepatnya di ujung sana. Dulu, waktu SMA gue selalu ngeliat lo dengan seorang laki-laki, gue kira kalian pacaran. Ketika gue tanya langsung ke Zari ternyata kalian Cuma sahabatan, gue lega.” Jawab Fahmi.
“Jadi lo kenal Zari?” Ga heran sih gue. Lo ko tau tanggal lahir gue?
“Ya... Karena gue cari tau.”
“Terus, apalagi yang lo tau soal gue?”
“Semuanya, nomor sepatu, lo pakai jam di sebelah kiri, lo kena Miopi -3 waktu lo kelas 11, lo ada luka di kaki kiri, lo pernah jatuh dan tulang rusuk lo pernah patah karena ikut balapan motor dengan Zari, lo juga....”
“Mau lo apa?”
“Gue cuma mau ngucapin ulang tahun ke lo.”
“Cuma itu? Oke makasih.

Fahmi menarikku, sore itu seluruh perasaanya diungkapkan, rupanya sejak lama ia memandangku di pinggir danau dan menyimpan rasa begitu dalam. Namun, Zari benar-benar sudah terlalu dalam di hatiku, tak mudah bagiku untuk menggeserkan namanya, ia tetap tertanam di sana selama sewindu. Aku telah meretakkan satu hati hari ini untuk seseorang yang entah ada di mana, yang mungkin tak bisa membuka sedikit saja rasa ini. Fahmi kutinggalkan sendiri di danau sebab memang aku tak ingin kami larut dalam suasana haru.

Bandung memang selalu punya udara untuk membuatku mengharu biru, di perjalanan menuju rumah udara mulai merayu untuk segera terlelap ditambah letih yang sudah begitu terasa. Teras rumah bercak kaki kucing, di sekitarnya juga terlihat bekas tapak sepatu.
               
 Teruntuk Andara Nuri
Sahabatku, terima kasih untuk selalu menunggu, maaf sudah membuatmu khawatir. Aku baik-baik saja, percayalah kisah kita selalu aku rindukan tak ada sehari pun bayanganmu luput dari ingatanku. Sahabatku Andara Nuri, selamat ulang tahun yang ke 24, doaku akan kusampaikan setelah kau selesai membaca surat ini. Aku menyayangimu.

-         Zari. B

“Semoga semoga yang lo harapkan bisa segera dikabulkan.”

Sebuah sura menyentakku, aku mesti meyakinkan bahwa dia bukan orang lain. Namun, hatiku yakin itu adalah dia, air mataku menetes lagi, bibirku bergetar. Segala kenangan kembali lagi, suara itu tidak berubah walau dua tahun sudah tak pernah lagi terdengar, suara yang kuharapkan menyahut tiap kali kupanggil namanya kini ia menegurku, menegur segala yang ada di tubuhku. Ia memandangku dengan senyuman tipis, setipis kumisnya dengan rambut gondrong dan badannya yang sudah kekar. Pijar-pijar mata kami saling bertemu, tapi tak berani melangkah, raut wajahnya kupandang saja, ia pun begitu.

“Harapan gue udah terkabul sekarang, lo di sini.”

Tangis kami pecah begitu saja, badanku dipeluknya hingga lemas kurasa menahan nangis. Dia datang lagi setelah harapanku tinggal sepenggal, hidupku akan memulai harinya yang baru, cintaku di sini, di dekapanku.

“Jangan pergi lagi, apa pun alasannya lo harus di sini.”
“Dara, kita adalah sahabat dan tak seorang pun yang mampu merusaknya. Meski seribu mil kita terpisah, percayalah kita akan saling mendoakan.”
“Tapi, gue sayang sama lo.”
“Gue tau, gue lebih sayang sama lo.”
“Bukan, bukan seperti yang lo anggap, gue sayang sama lo, dan perasaan ini bukan untuk seorang sahabat, gue cinta, gue sayang sama lo.”

Aku terhanyut dalam rindu yang telah dilampiaskan, sore itu aku dan tatapannya seakan kami menyatu dalam rasa yang tabu. Zari menatapku lebih lama, tajam sekali tidak seperti biasanya, raut wajahnya sudah agak berbeda, ada satu sisi yang membuat Zari berbeda dari yang dulu, entah apa tapi kurasa dia berbeda.

“Dua tahun yang lalu, gue terluka sangat parah karena dua orang wanita, Kanaya dan dosen pembibimbing yang selalu menganggap apa yang gue kerjakan tidak pernah baik. Lalu, gue mengasingkan diri dari tempat yang tidak pernah gue kunjungi dan orang-orang baru datang. Seseorang memberikan gue harapan hidup, dia menjadikan gue pribadi yang baru yang tak pernah takut melangkah, dan naasnya di atas semua ketidakmungkinan, dia mencintaiku dan aku pun begitu, aku mencintai lelaki itu.” Jelas Zari.
“Lelaki?” Tanyaku
“Aku mencintai dia and i’m, i’m a  gay.”

Ternyata rindu kemarin tidak ada apa-apanya dari pernyataan Zari, bukan karena cintaku yang ditolaknya tapi benar dugaanku memang ada yang berubah dari Zari. betapa hatiku dibuatnya sakit bertubi-tubi. Aku meyakinkan diri bahwa sore ini adalah mimpi terburukku, Zari belum kembali, dia akan datang suatu hari nanti dengan cerita perjuangan dengan akhir bahagia yang bisa kudengarkan setiap harinya. Biar lah sore ini aku bermimpi, esok aku akan terbangun dengan realita yang berbeda.
                Angin dan rintik hujan selalu menemaniku, aku masih berharap terbangun dari mimpiku, tapi tiap pagi tak ada yang berbeda, sore itu nyata aku dan aku harus menerimanya. Seratus pesan singkat kuterima dari Zari dalam seminggu ini tak satu pun yang kuindahkan, aku sekarang membenci kehidupannya dan kuharap perlahan aku bisa melenyapkan segala kenangan tentangnya. Tidak, aku berbohong aku tak sedikit pun membecinya, aku hanya mencari cara agar bisa membencinya sebab rasa cinta itu sudah terlalu dalam, aku tak bisa membedakan benci dan cinta. Bagaimana pun ia tetap sahabatku, sahabat terbaikku dan aku menyayanginya.
                                  
Besok di danau jam 10.

Sebuah pesan singkat untuk meyakininya bahwa aku masih peduli dengan kehidupannya, bahkan sangat singkat sebagai balasan seratus pesan darinya.
                Zari datang tepat pada waktunya, tapi aku lebih cepat. Ia menatapku tidak percaya bahwa gadis yang ia temui adalah benar-benar aku. Kala itu, aku memakai jeans robek dengan kemeja dan kaos oblong di dalamnya sambil menghisap rokok, rambut kubiarkan mengarai dan kalung chopper mengitari leherku.

“Tuh rokok.” Kataku menwarkan rokok.

Tiba-tiba ia mencampakkan satu slot rokok yang baru kubeli, begitu juga yang sedang aku isap. Aku mencoba mengutipnya kembali tapi Zari menarik tanganku, wajahnya merah sekali, bibirnya mengatup.

“Apa-apaan sih lo!” Bentakku
“Lo ada asma, Ra.”
“Peduli apa lo sama gue? Selama ini gue bisa kok jaga diri tanpa lo.”
“Trus lo ngapain nyuruh gue ke sini?”
“Gue cuma mau bayar utang gue di café, nih.”
“Lo kenapa sih?”
“Kalau lo bisa jadi gay, gue juga bisa jadi..”
“Jadi apa? Lo mau jadi apa? Lo mau jadi kayak gue?

Aku melihat kemarahan di wajahnya, segala keluhan diceritakannya, ia membentakku terus membentakku hingga air mataku jatuh untuk kesekian kalinya karena lelaki ini. Aku tak bergeming, amarahnya kurekam jelas, ia tak pernah semarah ini denganku. Tak ada yang lain selain kami berdua, tak ada juga yang mendengar suara keras Zari selainku. Matanya memerah, sesekali ia memalingkan wajahnya dan menarik napas panjang. Lalu, ia memegang kedua pipiku.

“Ra, gue menjamin masa depan lo akan cerah, lo akan punya suami yang menyayangi lo, isi rumah akan rame sama suara anak-anak kalian. Sampe lo tua, lo akan bahagia dengan orang-orang yang sayang sama lo. Gue jamin itu Ra, asal lo jangan pilih jalan ini.”

Mata kami saling bertemu, pandangannya penuh haru, diusapkannya air mataku beberapa kali hingga hanya tersisa tetes demi tetes. Tatapan mata itu menajam dan dikecupnya bibirku, aku merasakan napasnya begitu dekat, degub jantungku makin tak berirama, air matanya juga mengalir menyentuh pipiku. Pikiranku meracau tapi aku sedikit ketenangan dia tak berjarak denganku bahkan begitu dekat.

“Lo apaan sih?” Bentakku

Kudorong badannya lalu berlari dan berlari sekencangnya, tak kupedulikan ia meneriaki namaku. Aku membenci Zari! Aku tidak akan mengarapkan apa-apa lagi darinya. Dia bukanlah Zari yang dulu.

Juni, 2018

Tak tok tak tok
“Ra, kamu sudah selesai? Sudah dateng tuh”
“Udah nih tante, bentar ya.”
“Zari, doain gue ya. Gue degdegan banget nih.”
“Tenang aja, semuanya pasti lancar ko.”
“Tante, laptopnya bawa keluar ya? Zari mau lihat juga.”

 Hari yang baru akan kujalani dengan seseorang yang tak pernah kusematkan namanya dalam doa. Ia datang saat aku benar-benar membutuhkan orang lain di samping. Kemarin aku menolaknya dengan acuh, tapi sekarang kunci hatiku telah bersamanya. Melalui layar 11 inchi itu, Zari  menyaksikan pernikahanku dengan Fahmi, di hidungnya masih terpasang selang oksigen, sesekali kulirik ia tersenyum. Suatu hal yang paling kusesali, seandainya aku tak mengajaknya ke danau pagi itu, ia akan hadir di sini dengan tampannya. Ia harus merasakan sakit karena ulahku, sebuah sedan melaju kencang menabrak hingga tubuhnya terpental dan bercucuran darah. Penyesalan menghantuiku setelah itu hingga akhirnya Fahmi datang menyembuhkan segala luka.

“Aku tidak akan salah memilihmu, istriku.” Bisik Fahmi

Di samping Fahmi, aku memakai kebaya putih dengan kembang ditangan yang dikirim oleh Zari.







Comments

Popular Posts