Seandainya Bukan Hari Itu
Danau Segara Anak, 11 p.m.
Ini adalah pemandangan langit terbaik yang pernah aku lihat. Polemik ibu kota membuatku penat, atmosfernya tak sesejuk di tanah ini. Walaupun harus bersusah payah untuk sampai di sini rasanya semuanya terbayar lunas dengan pemandangan Bimasakti di atas kepala. Kami harus menginap di sini, besok baru melanjutkan perjalanan pulang bersama tiga orang lainnya; Jimmy, dia sahabat penaku dari SMA yang sebulan yang lalu akhirnya kita memutuskan untuk bertemu. Seno, teman sekelasku dari SMP dan juga anaknya teman sekantor ayah yang memaksaku untuk ikut trekking padahal pendakian ini seharusnya tidak untuk pemula. Dista, adiknya Seno.
“Ya ampun Sen, ini indah sekali!” Kataku sembari terkagum melihat langit.
“Ah kalau seperti ini sudah biasa.” Balas Seno.
“Sombong sekali! Tapi, terima kasih sudah menagajakku ke tempat ini, walaupun semua tulang-tulang rasanya mau copot. Ah, ini juga hasil perbuatanmu. Kamu sudah tau kalau aku belum pernah mendaki gunung, tapi aku malah diajak langsung ke Rinjani. Untung saja aku masih punya cadangan energi banyak. Kataku riang sambil memukul-mukul pundak Seno.
“ Hmm... Besok kita bisa mandi air hangat di Aik Kalak di balik bukit itu. Aku jamin, badan akan segar lagi! Sambil menunjuk ke arah sebuah bukit.
Setelah senyap.
“Tapi aku heran, sepertinya ayahmu sudah berbubah ya?” Lanjut Seno dengan mengerutkan dahi mengenang masa lalu.
Pertanyaan Seno membawaku ke masa seragam putih-biru. Seorang gadis tidak mengerti soal dandan duduk di bawah kipas angin yang selalu menguap saat mata pelajaran Kewarganegaraan, gadis ini jatuh cinta dengan ketua kelas yang berlogat Betawi kental dan jago dalam bermain gitar. Gadis itu aku, dan lelaki itu Reifan, sahabatnya Seno.
Hari ini sepulang sekolah aku nongkrong di tempat Reifan biasa nongkrong, biasanya Reifan ditemani Cassie pacarnya, tapi kali ini Cassie tidak memunculkan batang hidungnya, barangkali sudah putus. Ya jelas saja ini angin segar buatku untuk mencuri perhatiannya.
Teng tereteng teng teng
“Halo assalamu’alaikum nyak, ade ape? Sekarang? Iye, bentar tanggung nih baksonya belum habis. Iye nyak, habis bakso langsung dah aye pulang. Iye, wa’alaikum salam.”
Ternyata ibunya Reifan yang menyuruh agar ia cepat pulang karena ibunya ingin menjenguk omnya yang sedang sakit di rumah sakit. Setelah 7 menit akhirnya Reifan berpamitan pulang.
“Aku balik duluan ya teman-teman.” Kata Reifan sambil menggeser mangkuk baksonya.
“Sya, kamu ga balik sama Reifan? Kan searah, ntar kelamaan dimarahi ibu tau!” Sambut Seno yang mengedipkan mata ke aku sebagai tanda bahwa aku akan lebih dekat dengan Reifan jika kami pulang bersama.
Seno memang paling paham tentangku, tentang otoriternya ayahku, aku tidak boleh pulang terlambat kecuali ada les di sekolah. Untungnya, hari ini les diliburkan dan jam yang biasanya untuk les bisa aku pakai untuk nongkrong.
“Oh iya, aku juga nih. Daaah” Jawabku lalu berdiri.
“ Syaaa.... Kamu lagi mens ya? Itu tembus!” Teriak Neika yang lalu menutup mulutnya dengan tangan menyadari bahwa ia tak sengaja mempermalukanku.
Kejadian itu adalah hal yang paling memalukan dalam hidupku, setelahnya adalah aku ditegur dosen karena ngupil di saat beliau sedang menjelaskan materi.
“Kalau aku ingat yang satu itu rasanya lucu ya Sya hahahaha. Niatnya mau dekat, eh malah malu-maluin.” Seno menghentikan ingatanku tujuh tahun yang lalu dengan tawanya yang terkikih-kikih.
“Ah kamu mah, tapi ada senangnya juga sih, kan mulai dari situ aku sama Reifan makin dekat terus pacaran. Emang kamu!” Ejekku.
“Iya iya, aku tidak bisa mendapatkan Neri. Oh ya, ngomong-ngomong setelah selesai S1kamu mau kemana?” Kali ini keseriusan terlihat dari muka Seno.
“Lanjut S2 mungkin? Aku juga bingung.” Jawabku sambil menerka-nerka.
“Nikah saja lah!” Seno bercanda lagi.
“Lah sama siapa? Kamu kira cari jodoh gampang!” Tandas aku.
“Sama aku!.” Seno makin serius.
“Ah yang benar saja!” Semakin meyakiniku kalau Seno sedang kesurupan.
Aku sudah menyiapkan Al-Qur’an kecil di saku, untuk baca-baca atau barangkali tiba-tiba ada yang kesurupan seperti Seno biar bisa dibacakan ayat Al-Qur’an.
“Aku serius Reisya Hariana, sebenernya aku ingin sekali ngomong ini sama kamu cuma waktunya aja belum pas. Sekarang kita di sini di tempat paling indah ini dan di bawah langit yang paling indah buat kamu, aku rasa ini waktu yang pas. Selepas dari Rinjani, aku boleh kan ke rumah sama ayah, ibu, Dista dan mas David? Kalaupun kamu bilang ga boleh aku akan tetap datang, aku ingin membuktikan bahwa kamu yang selama ini aku cari”
Seno menatapku berbeda dari biasanya, matanya berbinar-binar penuh harapan. Sedangkan aku, ya Tuhan jantungku berdetak amat kencang aku tak yakin kalau Seno tak mendengarnya, jari-jariku rasanya kaku, air mataku ingin sekali menetes.
“Jika memang itu maumu datang saja.” Jawabku sambil tertunduk.
“Satu lagi yang harus kamu ketahui kalau puisi tentang Edelwis di buku tahunan SMP itu adalah kamu.” Sahut Seno.
Lalu aku berpaling meninggalkan Seno sambil tersenyum, entah ini suatu kebahagiaan atau bukan. Seno bukanlah lelaki yang aku prioritaskan selama ini dan ha? Ini sudah tujuh tahun berlalu, ternyata saat aku bercerita tentang Reifan apa yang dia rasakan? Aku pacaran dengan Reifan? Neri?
“Seno bego, bego bego!” Bentakku dalam hati.
“Jangan lupa ya calon istri..!” Teriak Seno kegirangan.
Krek..krekk..
“Ada apa ya mba? Mas Seno kok teriak-teriak gitu?” Dista pun terbangun mendengar teriakan Seno.
“Kegirangan mungkin habis lihat Raisa trekking malam-malam.” Jawabku sambil mengajak Dista untuk kembali memasuki tenda.
Pagi hari setelah malam yang paling bahagia itu, seperti kata Seno bahwa dia akan menghangatkan badan di Aik Kalak. Aku, Dista, dan Jimmy akan menyusulnya karena perut lebih ingin dilayani ketimbang bau badan. Aku hanya melihatnya menjauh hingga punggungnya hilang, bersembunyi di balik bukit. Walau tak begitu jelas penglihatanku, aku dapat melihat badannya yang tegap dan kulit sawo matangnya membuatnya begitu maskulin.
“Aik Kalak ya Rei? Aku pernah dengar dari teman-teman pendaki lain kalau di sana agak bahaya” Kata Jimmy secara tiba-tiba.
“Ah paling mitos doang”
“Bentar ya, aku ke sana dulu lihat situasi.”
Jimmy menyusul Seno dengan mimik yang khawatir, ia berjalan secepat mungkin. Namun terlihat bahwa dia mencoba bertingkah senatural mungkin agar tak menghawatirkan siapapun. 20 menit kemudian, aku melihat seorang berlarian dan melambaikan, postur badannya tinggi seperti badannya Seno. Tidak begitu jelas siapa, aku segera mengambil kaca mata untuk memastikan bahwa dia benar-benar manusia. Ah, ternyata Jimmy. Jimmy terus melambaikan tangannya memberi isyarat bahwa dia memanggilku, aku pun segera menghampirinya.
-
Ibu Kota, 10 a.m
“Assalamu’alaikum Sen, udah setahun ternyata ya Sen. Besok, seharusnya kita pake baju couple terus ngasihi THR ke keponakan. Semenjak kejadian itu, aku ga berani naik gunung lagi karena nantinya aku ngingat kamu, biarlah hanya Rinjani yang tau tentang secuil kebahagiaanku dan kesedihan terhebatku. Kamu sudah senang di sana kan? Selamat lebaran.”
Jika aku tau bahwa Rinjani adalah tempat terakhir kumenatap wajahnya, aku akan memilih untuk tetap menetap di sana. Tak peduli berapa satuan celsius yang akan kuhadapi setiap harinya, asal bersamanya aku yakin udara akan kalah dengan matahari. Perandaian yang kubuat karena kenyataannya aku tidak tau bahwa di sanalah tempat yang paling ingin kulupakan.
Seno kulihat terbujur kaku tak bernapas, sementara para pendaki lain sudah ramai mengelilingi jasadnya. Air mata tak terbendung, sampai di kaki Rinjani, sampai ke rumahnya, sampai ke kuburnya. Seluruh tulangku rasanya tak sanggup lagi menopang tubuhku, mataku? Hanya sedikit cahaya yang dapat menembusnya, Bibirku? Hanya nama Tuhan yang kutasbihkan, kiranya Dia dapat menyadarkanku bahwa ini adalah mimpi buruk, otakku? Hanya visualmu yang terus berulang. Sungguh, jikapun aku jatuh cinta padanya baru satu malam itu, tapi rasanya kenangan yang membuat semuanya sangat sakit, terkadang hingga detik ini ketika yang kubaca di sebuah nisan adalah namanya.
Dan benar, lagu Brian McKnight yang kau nyanyikan untukku telah menjadi kenyataan bahwa aku adalah satu-satunya wanita yang namanya kau bawa hingga akhirmu.
Ini adalah pemandangan langit terbaik yang pernah aku lihat. Polemik ibu kota membuatku penat, atmosfernya tak sesejuk di tanah ini. Walaupun harus bersusah payah untuk sampai di sini rasanya semuanya terbayar lunas dengan pemandangan Bimasakti di atas kepala. Kami harus menginap di sini, besok baru melanjutkan perjalanan pulang bersama tiga orang lainnya; Jimmy, dia sahabat penaku dari SMA yang sebulan yang lalu akhirnya kita memutuskan untuk bertemu. Seno, teman sekelasku dari SMP dan juga anaknya teman sekantor ayah yang memaksaku untuk ikut trekking padahal pendakian ini seharusnya tidak untuk pemula. Dista, adiknya Seno.
“Ya ampun Sen, ini indah sekali!” Kataku sembari terkagum melihat langit.
“Ah kalau seperti ini sudah biasa.” Balas Seno.
“Sombong sekali! Tapi, terima kasih sudah menagajakku ke tempat ini, walaupun semua tulang-tulang rasanya mau copot. Ah, ini juga hasil perbuatanmu. Kamu sudah tau kalau aku belum pernah mendaki gunung, tapi aku malah diajak langsung ke Rinjani. Untung saja aku masih punya cadangan energi banyak. Kataku riang sambil memukul-mukul pundak Seno.
“ Hmm... Besok kita bisa mandi air hangat di Aik Kalak di balik bukit itu. Aku jamin, badan akan segar lagi! Sambil menunjuk ke arah sebuah bukit.
Setelah senyap.
“Tapi aku heran, sepertinya ayahmu sudah berbubah ya?” Lanjut Seno dengan mengerutkan dahi mengenang masa lalu.
Pertanyaan Seno membawaku ke masa seragam putih-biru. Seorang gadis tidak mengerti soal dandan duduk di bawah kipas angin yang selalu menguap saat mata pelajaran Kewarganegaraan, gadis ini jatuh cinta dengan ketua kelas yang berlogat Betawi kental dan jago dalam bermain gitar. Gadis itu aku, dan lelaki itu Reifan, sahabatnya Seno.
Hari ini sepulang sekolah aku nongkrong di tempat Reifan biasa nongkrong, biasanya Reifan ditemani Cassie pacarnya, tapi kali ini Cassie tidak memunculkan batang hidungnya, barangkali sudah putus. Ya jelas saja ini angin segar buatku untuk mencuri perhatiannya.
Teng tereteng teng teng
“Halo assalamu’alaikum nyak, ade ape? Sekarang? Iye, bentar tanggung nih baksonya belum habis. Iye nyak, habis bakso langsung dah aye pulang. Iye, wa’alaikum salam.”
Ternyata ibunya Reifan yang menyuruh agar ia cepat pulang karena ibunya ingin menjenguk omnya yang sedang sakit di rumah sakit. Setelah 7 menit akhirnya Reifan berpamitan pulang.
“Aku balik duluan ya teman-teman.” Kata Reifan sambil menggeser mangkuk baksonya.
“Sya, kamu ga balik sama Reifan? Kan searah, ntar kelamaan dimarahi ibu tau!” Sambut Seno yang mengedipkan mata ke aku sebagai tanda bahwa aku akan lebih dekat dengan Reifan jika kami pulang bersama.
Seno memang paling paham tentangku, tentang otoriternya ayahku, aku tidak boleh pulang terlambat kecuali ada les di sekolah. Untungnya, hari ini les diliburkan dan jam yang biasanya untuk les bisa aku pakai untuk nongkrong.
“Oh iya, aku juga nih. Daaah” Jawabku lalu berdiri.
“ Syaaa.... Kamu lagi mens ya? Itu tembus!” Teriak Neika yang lalu menutup mulutnya dengan tangan menyadari bahwa ia tak sengaja mempermalukanku.
Kejadian itu adalah hal yang paling memalukan dalam hidupku, setelahnya adalah aku ditegur dosen karena ngupil di saat beliau sedang menjelaskan materi.
“Kalau aku ingat yang satu itu rasanya lucu ya Sya hahahaha. Niatnya mau dekat, eh malah malu-maluin.” Seno menghentikan ingatanku tujuh tahun yang lalu dengan tawanya yang terkikih-kikih.
“Ah kamu mah, tapi ada senangnya juga sih, kan mulai dari situ aku sama Reifan makin dekat terus pacaran. Emang kamu!” Ejekku.
“Iya iya, aku tidak bisa mendapatkan Neri. Oh ya, ngomong-ngomong setelah selesai S1kamu mau kemana?” Kali ini keseriusan terlihat dari muka Seno.
“Lanjut S2 mungkin? Aku juga bingung.” Jawabku sambil menerka-nerka.
“Nikah saja lah!” Seno bercanda lagi.
“Lah sama siapa? Kamu kira cari jodoh gampang!” Tandas aku.
“Sama aku!.” Seno makin serius.
“Ah yang benar saja!” Semakin meyakiniku kalau Seno sedang kesurupan.
Aku sudah menyiapkan Al-Qur’an kecil di saku, untuk baca-baca atau barangkali tiba-tiba ada yang kesurupan seperti Seno biar bisa dibacakan ayat Al-Qur’an.
“Aku serius Reisya Hariana, sebenernya aku ingin sekali ngomong ini sama kamu cuma waktunya aja belum pas. Sekarang kita di sini di tempat paling indah ini dan di bawah langit yang paling indah buat kamu, aku rasa ini waktu yang pas. Selepas dari Rinjani, aku boleh kan ke rumah sama ayah, ibu, Dista dan mas David? Kalaupun kamu bilang ga boleh aku akan tetap datang, aku ingin membuktikan bahwa kamu yang selama ini aku cari”
Seno menatapku berbeda dari biasanya, matanya berbinar-binar penuh harapan. Sedangkan aku, ya Tuhan jantungku berdetak amat kencang aku tak yakin kalau Seno tak mendengarnya, jari-jariku rasanya kaku, air mataku ingin sekali menetes.
“Jika memang itu maumu datang saja.” Jawabku sambil tertunduk.
“Satu lagi yang harus kamu ketahui kalau puisi tentang Edelwis di buku tahunan SMP itu adalah kamu.” Sahut Seno.
Lalu aku berpaling meninggalkan Seno sambil tersenyum, entah ini suatu kebahagiaan atau bukan. Seno bukanlah lelaki yang aku prioritaskan selama ini dan ha? Ini sudah tujuh tahun berlalu, ternyata saat aku bercerita tentang Reifan apa yang dia rasakan? Aku pacaran dengan Reifan? Neri?
“Seno bego, bego bego!” Bentakku dalam hati.
“Jangan lupa ya calon istri..!” Teriak Seno kegirangan.
Can i marry your daughter and make her my wife
I want her to be the only one girl that i love for the rest of my life
And give her the best of me 'till the day taht i die.
“Ada apa ya mba? Mas Seno kok teriak-teriak gitu?” Dista pun terbangun mendengar teriakan Seno.
“Kegirangan mungkin habis lihat Raisa trekking malam-malam.” Jawabku sambil mengajak Dista untuk kembali memasuki tenda.
Pagi hari setelah malam yang paling bahagia itu, seperti kata Seno bahwa dia akan menghangatkan badan di Aik Kalak. Aku, Dista, dan Jimmy akan menyusulnya karena perut lebih ingin dilayani ketimbang bau badan. Aku hanya melihatnya menjauh hingga punggungnya hilang, bersembunyi di balik bukit. Walau tak begitu jelas penglihatanku, aku dapat melihat badannya yang tegap dan kulit sawo matangnya membuatnya begitu maskulin.
“Aik Kalak ya Rei? Aku pernah dengar dari teman-teman pendaki lain kalau di sana agak bahaya” Kata Jimmy secara tiba-tiba.
“Ah paling mitos doang”
“Bentar ya, aku ke sana dulu lihat situasi.”
Jimmy menyusul Seno dengan mimik yang khawatir, ia berjalan secepat mungkin. Namun terlihat bahwa dia mencoba bertingkah senatural mungkin agar tak menghawatirkan siapapun. 20 menit kemudian, aku melihat seorang berlarian dan melambaikan, postur badannya tinggi seperti badannya Seno. Tidak begitu jelas siapa, aku segera mengambil kaca mata untuk memastikan bahwa dia benar-benar manusia. Ah, ternyata Jimmy. Jimmy terus melambaikan tangannya memberi isyarat bahwa dia memanggilku, aku pun segera menghampirinya.
-
Ibu Kota, 10 a.m
“Assalamu’alaikum Sen, udah setahun ternyata ya Sen. Besok, seharusnya kita pake baju couple terus ngasihi THR ke keponakan. Semenjak kejadian itu, aku ga berani naik gunung lagi karena nantinya aku ngingat kamu, biarlah hanya Rinjani yang tau tentang secuil kebahagiaanku dan kesedihan terhebatku. Kamu sudah senang di sana kan? Selamat lebaran.”
Jika aku tau bahwa Rinjani adalah tempat terakhir kumenatap wajahnya, aku akan memilih untuk tetap menetap di sana. Tak peduli berapa satuan celsius yang akan kuhadapi setiap harinya, asal bersamanya aku yakin udara akan kalah dengan matahari. Perandaian yang kubuat karena kenyataannya aku tidak tau bahwa di sanalah tempat yang paling ingin kulupakan.
Seno kulihat terbujur kaku tak bernapas, sementara para pendaki lain sudah ramai mengelilingi jasadnya. Air mata tak terbendung, sampai di kaki Rinjani, sampai ke rumahnya, sampai ke kuburnya. Seluruh tulangku rasanya tak sanggup lagi menopang tubuhku, mataku? Hanya sedikit cahaya yang dapat menembusnya, Bibirku? Hanya nama Tuhan yang kutasbihkan, kiranya Dia dapat menyadarkanku bahwa ini adalah mimpi buruk, otakku? Hanya visualmu yang terus berulang. Sungguh, jikapun aku jatuh cinta padanya baru satu malam itu, tapi rasanya kenangan yang membuat semuanya sangat sakit, terkadang hingga detik ini ketika yang kubaca di sebuah nisan adalah namanya.
Dan benar, lagu Brian McKnight yang kau nyanyikan untukku telah menjadi kenyataan bahwa aku adalah satu-satunya wanita yang namanya kau bawa hingga akhirmu.
Comments
Post a Comment