Ah.. Hati!
Kali ini bukan lagi musim hujan, panas sepanas hatiku mendengar ceritamu tentangnya, namun memang kau selalu lupa kalau aku pintar sekali dalam memberi senyum-senyuman yang tak pernah kuharapkan sehingga ceritamu larut selarut malam, gerah segerah suasananya. Terus kuusahakan agar kau semakin tertipu dengan kelihaianku memalsukan sebuah senyuman.
"Trus, lo udah nembak dia belum?"
Penasaran saja sejauh mana sudah kau melangkah, tapi dari tadi hati terus saja berteriak agar kuhentikan cerita malam ini. Tak tahan lagi untuk meneruskan sebenarnya. Ah biarlah aripada sakit sedikit mending kusakitkan semua jiwaku malam ini, agar esok tak ada lagi rasa penasaran yang mencekik.
"Belum nih Ta, gue bingung harus mulai darimana. Menurut lo gue tembak sekarang atau nanti?" Tanyamu seolah-olah aku akan memaksamu untuk lebih jauh dengannya.
"Tembak aja sekarang! Ya kalau lo berani sih." Entah lah kata-kata ini muncul begitu saja.
"Ah? Oke! Gue tembak dia sekarang, nih gue telpon."
Penipu! Aku penipu! Aku menipu diriku sendiri, jelas bukan ini yang kumau.
"Ya Tuhan.., Benar kau ingin mencabut nyawaku malam ini juga?" Pertanyaan semacam itu lah yang dari tadi kulontarkan pada penciptaku ahar dia tau kalau umatnya yang satu ini sedang berada dalam titik terendah dalam kehidupannya.
"Halo Ni, apa kabar?". Kau menelepon sembari melihatku dan tersenyum menandakan kau memang benar-benar membunuhku malam ini juga.
Lalu kau pergi menjauhiku dengan obrolan surgamu. Dari sini aku mlihat gerak-gerikmu yang semakin meyakinimu bahwa malam ini kau adalah kekasihnya dan semakin meyakinkanku juga bahwa Tuhan menginginkanku malam ini bersamanya.
Ku ambil langkah, biarkan semua cerita mengalir tanpa aku di dalamnya. Pungungmu semakin jauh dan berakhir tak terlihat, dan tanpa kusadari ada air mata yang mengalir sejak langkah pertamaku hingga di bangku taman ini tak mampu kuhentikan.
Sebenarnya aku tak harus seperti ini dan memang tidak boleh hanya karena dia mendapatkan kekasih hatinya. Ketahuilah dia sahabatku selama lima tahun ini, lima wanita pula pernah menjadi bagian dari kisahnya tapi entah mengapa ini yang paling pedih. Wanita ini yang diceritakannya setiap kali jumpa, wanita ini yang menjadi utama menggantikan posisi aku di kepeduliannya, dan wanita ini menjadi alasanku tak berani menatap matanya malam ini.
"Nita."
Suara yang tak asing, suara yang kudengar setengah jam yang lalu, sura yang kudengar sedang menanyakan kabar wanita di seberang telepon. Mengapa aku berhalusinasi segila ini? Dia sedang saling rindu dengan kekasihnya!
"Nitaaa! Lo kenapa?
Saat itu, gelap melebihi gelapnya malam ini, letih tak seletih aku berlari menjauhinya. Aku tak tau lagi entah apa selanjutnya, sadarku aku masih di bangku taman tadi sambil tertidur di pangkuanmu.
"Nit.."
"Bim, gue mau pulang ya".
Malam itu berakhir lebih cepat dari perkiraanku. Percakapan via telepon itu juga menjadi percakapan terakhir kau dengannya.
Hari ini seminggu setelah malam itu, semuanya belum bisa kulupakan tapi aebentar lagi aku tak akan lagi menemuimu.
"Nit, pokoknya lo harus jaga diri baik-baik di sana ya?"
London, kota yang menjadi tujuanku untuk membuang segala kenangan yang tak manis itu, temasuk kau di dalamnya. Kau tak menjadi kekasihku tak juga wanita itu. Kisah kita begitu saja sampai aku tak tau lagi kau di mana.
"Trus, lo udah nembak dia belum?"
Penasaran saja sejauh mana sudah kau melangkah, tapi dari tadi hati terus saja berteriak agar kuhentikan cerita malam ini. Tak tahan lagi untuk meneruskan sebenarnya. Ah biarlah aripada sakit sedikit mending kusakitkan semua jiwaku malam ini, agar esok tak ada lagi rasa penasaran yang mencekik.
"Belum nih Ta, gue bingung harus mulai darimana. Menurut lo gue tembak sekarang atau nanti?" Tanyamu seolah-olah aku akan memaksamu untuk lebih jauh dengannya.
"Tembak aja sekarang! Ya kalau lo berani sih." Entah lah kata-kata ini muncul begitu saja.
"Ah? Oke! Gue tembak dia sekarang, nih gue telpon."
Penipu! Aku penipu! Aku menipu diriku sendiri, jelas bukan ini yang kumau.
"Ya Tuhan.., Benar kau ingin mencabut nyawaku malam ini juga?" Pertanyaan semacam itu lah yang dari tadi kulontarkan pada penciptaku ahar dia tau kalau umatnya yang satu ini sedang berada dalam titik terendah dalam kehidupannya.
"Halo Ni, apa kabar?". Kau menelepon sembari melihatku dan tersenyum menandakan kau memang benar-benar membunuhku malam ini juga.
Lalu kau pergi menjauhiku dengan obrolan surgamu. Dari sini aku mlihat gerak-gerikmu yang semakin meyakinimu bahwa malam ini kau adalah kekasihnya dan semakin meyakinkanku juga bahwa Tuhan menginginkanku malam ini bersamanya.
Ku ambil langkah, biarkan semua cerita mengalir tanpa aku di dalamnya. Pungungmu semakin jauh dan berakhir tak terlihat, dan tanpa kusadari ada air mata yang mengalir sejak langkah pertamaku hingga di bangku taman ini tak mampu kuhentikan.
Sebenarnya aku tak harus seperti ini dan memang tidak boleh hanya karena dia mendapatkan kekasih hatinya. Ketahuilah dia sahabatku selama lima tahun ini, lima wanita pula pernah menjadi bagian dari kisahnya tapi entah mengapa ini yang paling pedih. Wanita ini yang diceritakannya setiap kali jumpa, wanita ini yang menjadi utama menggantikan posisi aku di kepeduliannya, dan wanita ini menjadi alasanku tak berani menatap matanya malam ini.
"Nita."
Suara yang tak asing, suara yang kudengar setengah jam yang lalu, sura yang kudengar sedang menanyakan kabar wanita di seberang telepon. Mengapa aku berhalusinasi segila ini? Dia sedang saling rindu dengan kekasihnya!
"Nitaaa! Lo kenapa?
Saat itu, gelap melebihi gelapnya malam ini, letih tak seletih aku berlari menjauhinya. Aku tak tau lagi entah apa selanjutnya, sadarku aku masih di bangku taman tadi sambil tertidur di pangkuanmu.
"Nit.."
"Bim, gue mau pulang ya".
Malam itu berakhir lebih cepat dari perkiraanku. Percakapan via telepon itu juga menjadi percakapan terakhir kau dengannya.
Hari ini seminggu setelah malam itu, semuanya belum bisa kulupakan tapi aebentar lagi aku tak akan lagi menemuimu.
"Nit, pokoknya lo harus jaga diri baik-baik di sana ya?"
London, kota yang menjadi tujuanku untuk membuang segala kenangan yang tak manis itu, temasuk kau di dalamnya. Kau tak menjadi kekasihku tak juga wanita itu. Kisah kita begitu saja sampai aku tak tau lagi kau di mana.
Comments
Post a Comment