Seketika

Pena masih menari,
dentingan jam sudah bosan berdetik.
Masih butuh inspirasi
diantara toko buku yang pintunya setengah terbuka.
Diluar sana hanya ada pemuda - pemuda bergitar
menanti rejeki ditengah malam nanti.
Jendela masih basah sisa tempiasan hujan.
Aku, aku masih disini
Di salah satu toko buku yang pintunya setengah terbuka,
sedang menunggu kapan berhentinya pena
yang masih betah menuliskan namamu.

Tik tok tik tok
10 p.m
Gundah sekali
"Telpon tidak? Kalau ditelpon.... ah telpon aja deh."

Tuut...tut.... krek!
"Selamat malam, kediaman tuan dan nyonya Haris" Suara wanita dari balik telep
Dug!
Reject
"Benar kata Nadine, mana mungkin Edo berlama lama sendiri, Janjinya untuk menungguku bullshit!
Seorang Edo pria yang digandrungi banyak cewe pas SMA menunggu 3 tahun seorang cewe aneh kayak gue! Ga mungkin banget!"

"Duh, bego banget lo Mikha!" Sambil tersenyum melihat hasil tulisan dan ternyata penuh dengan namamu.

Edo berjanji untuk menungguku sekembalinya aku dari Lyon, salah satu kota di Prancis tempatku mengemis ilmu. Tepatnya saat kelas 11, aku jatuh cinta sama bocah ingusan, bertingkah sok keren, tapi dia baik. 

Edo Haris

Tulisan itu yang ku perhatikan saat pertama kali menatap di dekat kantin sekolah. Aku selalu mencuri pandangan saat dia di dekatku, hari itu bertepatan ulang tahunnya yang ke 17. Banyak sekali orang yang mengucapkannya selamat, ku rasa hampir semua siswa di kantin pada saat itu mengenalnya. Hal itu juga yang membuatku heran. Edo memiliki banyak teman entah kenapa hanya Nadine yang tau keadaan dia saat ini.
Dia tak pernah menyapaku sebelumnya, namun hari iu selembar undangan diberikan kepadaku.

To: Mikha Racquel

"Astaga! Edo ngundang gue? Kok dia tau nama gue? Jangan jangan dia...."

Segala probabillitas muncul dibenakku. Entah itu Edo diam diam mengutilku, Edo diam diam menyukaiku sampai ke suatu probabilitas yang hanya manusia laknat yang mengetahuinya.
Malam itu aku datang dengan gaun putih, rambut hitamku sebahu digerai dan membawa kado tak terlalu besar bersama Jean teman sekelasku yang baru ku tau kalau dia teman sekursus Edo.

"Oy Jean! Wah parah lo! Udah bawa gandengan aja. Hay Mik." 

Suara itu, asing tapi selalu ku tunggu, untuk pertama kalinya aku mendengar dia memanggil namaku. Probabilitas itu muncul kembali, entahlah Edo selalu membuatku menerka nerka apapun.

"Bbbaik baik kok do"

Setelah perkenalan itu, intensitas pertemuan kami semakin sering dan dua minggu kemudian Edo menyatakan cintanya. Setahun kami lalui, lalu aku meninggalkannya demi impianku melihat menara Eiffel walau bukan di Paris setidaknya aku pernah melihat salah satu karya Gustave Eiffel yang tersohor itu. 
Tepat di hari kepergianku ke Lyon, Edo mengucapkan janjinya untuk menungguku di Indonesia, tapi apa? Kami kehilangan kontak sebulan setelahnya hingga hari ini yang ku dapat tentangnya adalah ada wanita yang memakai nama belakangnya yang dulu pernah ku impikan untuk ke cantum di nama belakangku.

Tik tok tik tok
10.30 pm

Tok tok tok (suara sepatu)

"Maaf mba, toko sudah mau ditutup. Ada yang bisa saya bantu?"

Aku cuma menggeleng dan tersenyum lalu meninggalkan toko buku yang pintunya sudah hampir ditutup penuh itu.

I won't give up on us
Even if the skies get rough
I'm giving you all my love
I'm still looking up
I'm still looking up

I won't give up nya Jason Mraz diiringi dengan gitar dari salah satu pria yang mungkin umurnya 20 tahunan menghentikan langkahku, aku sangat mencintai lagu itu kebetulan apalagi dia memainkan gitarnya seperti Jason Mraz sungguhan. Ku coba untuk menghampiri

"Fansnya Jason ya mas?"
"Opo mba? " Jawabnya

Aku terkejut saat dia menyanyikan lagu berbahasa Inggris, aksen inggrisnya sangat bagus tapi kenapa saat berbicara Jawa nya kental sekali.

"Mas ini penggemarnya Jason ya? Tadi nyanyiin lagunya Jason"
"Oh iyo mba, aku sek ngepens karo Jeson, suarane apik tenan" Pemuda itu menjawabnya begitu bersemangat sambil mengeluarkan sebuah bungkusan CD bertuliskan Love is a four letter word
"Iki loh mba, aku baru beli sidine Jeson"
"Aku juga suka Jason loh mas.. bla.. bla... bla.."

Percakapan itu berlanjut sampai hanya ada kami "Fansnya Jason Mraz" dan ibu - ibu penjual bandrek. 
Tak sedetikpun aku mengingat Edo, padahal di toko buku tadi hanya namanya yang ku tulis. Keramahan mas Deni (pemuda bergitar) membuatku tersanjung, bukan tentang ketampanannya tapi tentang kuatnya hati untuk merelakan kekasihnya yang direbut sahabatnya. Begitu ceritanya, yang awalnya aku pikir dia cuma pemuda Jawa yang sedang stress tak dapat pekerjaan. 

Delete all photos?
Yes        No

"Au revoir Edo"


Comments

Popular Posts