Kau! Mentari
Bias cahaya mulai ada
Masuk diantara celah-celah daun pohon cemara
Dia, sang raja bimasakti telah bangun
Semua sibuk menyambutnya
Ada yang tertawa namun ada merana
Sisa gelas kopi mulai dibereskan
Kendaraan di hidupkan
Semrawut jalanan mulai tampak
Ibu - ibu yang di pasar
Supir supir angkot yang selalu buat onar
Anak anak berseragam tersenyum melebar
Saat dia telah di atas
Rasanya begitu panas
Muka berkerut dan berkipas
Berharap akan turun hujan
Dan melihat pelangi di atas awan
Kadang kau dicari
Tapi kadang kau disakiti
Kadang dibutuhkan
Dan kadang juga diabaikan
Mentari
Kau sekarang yang di ufuk barat sana
Kami masih mengharapkanmu terbit lagi
Melihat ufuk timur bersinar
Dan mendengar kebisingan pagi hari
Jangan padam wahai sang surya
Karena ini belum saatnya
Kami masih punya dosa
Yang tak pernah ada habisnya
Masuk diantara celah-celah daun pohon cemara
Dia, sang raja bimasakti telah bangun
Semua sibuk menyambutnya
Ada yang tertawa namun ada merana
Sisa gelas kopi mulai dibereskan
Kendaraan di hidupkan
Semrawut jalanan mulai tampak
Ibu - ibu yang di pasar
Supir supir angkot yang selalu buat onar
Anak anak berseragam tersenyum melebar
Saat dia telah di atas
Rasanya begitu panas
Muka berkerut dan berkipas
Berharap akan turun hujan
Dan melihat pelangi di atas awan
Kadang kau dicari
Tapi kadang kau disakiti
Kadang dibutuhkan
Dan kadang juga diabaikan
Mentari
Kau sekarang yang di ufuk barat sana
Kami masih mengharapkanmu terbit lagi
Melihat ufuk timur bersinar
Dan mendengar kebisingan pagi hari
Jangan padam wahai sang surya
Karena ini belum saatnya
Kami masih punya dosa
Yang tak pernah ada habisnya
Comments
Post a Comment