NAWASENA

Denpasar, November 2023

Pada dini hari di ruangan bermatahari tebal, aku ungkapkan sebagian dari aku yang bersorai dan selebihnya sedang patah. Lukanya dimulai dari awal tapak, berjeda sejenak, lalu memulai lagi hinga bila-bila. Aku sebenarnya kalut, ritma hidupku penuh dengan kejutan di awal bangun tidur. Malam ini aku tidak ingin tertidur, kubiarkan atma bersaing antara ingin dirayakan atau ditangisi atau bahkan tidak keduanya. 

Dulu, tiga tahun lalu, aku pernah merayakan kehilanganku sendiri, menyusun satu dua ratus kisah sebelum berpisah. Aku tak ingin mengulanginya, begitulah janjiku. Setelahnya, aku hanya membiarkan penggalan cerita tak bertajuk dan tak tahu pula alurnya, melaju sesuka hati, kadang lambat kadang bak kilat di musim hujan. Aku menertawakan jemala-jemala yang sibuk merapihkan masa depan, "Lihatlah si lugu-lugu ini!" Aku bagai Sapiens yang hidup di butala sebelum nenek moyangnya, seakan memahami garis hidup semua orang yang berakhir P E R G I. Seringkali jika khalayak bertanya mau jadi apa aku, aku enggan menjawab karena menjadi apapun semua akan pergi, tapi sebuah pertanyaan gunanya untuk dijawab, tapi entah, aku lupa menjawab apa kala itu, apakah aku menjawab secara logis atau imajinasiku sedang menggunakan teori maxim-maxim tindak tutur secara tidak implisit atau entahlah.

Lalu, datang setelahnya hari-hari yang kutaburkan gelak dari sukma hinga bibir-bibirku yang tak ingin mengatup, aku kembali membuat catatan kecil, awalnya kusebut itu motivasi, lalu imajinasi, lalu harapan, lalu... lalu.... datang lagi kisah yang kusebut tiga tahun lalu. Duh Gusti.... aku adalah salah satu orang dungu yang kuhina dari tiga tahun lalu. Aku patah hati lagi.


Comments

Popular Posts