Baso Imut

 

Bandung, 14 Februari 2021.

Kata orang hari ini adalah hari kasih sayang, hari di mana orang-orang sedang menikmati menit dengan yang paling dikasihi, begitu pun aku, tapi dia bukan orang, dia disebut Bandung. Bandung yang dingin dan rindu. Setelah sebelas bulan berpisah, aku kembali ke Bandung, Bandung yang kucinta. Jika Bandung adalah manusia maka dia adalah orang yang paling aku sayang namun yang paling tidak ingin aku temui lagi selain hari ini. Bandung menyambutku anggun seperti biasa dengan dinginnya pun aku mampu jatuh hati, ia tetap indah sama seperti dini hari sebelas bulan lalu, tapi Bandung hari ini sepi, dia tak banyak bicara.

Sebenarnya aku ingin sekali menjamah Bandung lebih dalam. Namun, sayang waktuku tak banyak atau bahkan aku sudah mengurungkan niat, tak ingin menambah banyak beban kenangan, untuk itu aku putuskan tujuan ke Bandung hanya untuk keperluan genting, walau tak pelak menapik sebenarnya rindu lebih besar dari sebuah profesionalisme. Kuhirup udara dalam-dalam, rasanya aku baru saja dikasih doping yang mengalir melalui rongga hidung, masuk ke paru-paru dan menjadi zat penting untuk menopang kehidupanku, aku tidak tahu apakah Oksigen di Bandung sama dengan yang kuhirup seperti biasanya atau tidak.

Malam hanya terdengar suara menapak satu satu, mungkin ada beberapa kendaraan lalu lalang, dan aku bisa mendengar dering telepon yang entah kepunyaan siapa dan di mana, lalu seperti biasa hujan turun. Pagi dan siangnya suara burung berkicau, dentingan sendok dan mangkuk penjual siomay atau cuanky, juga derit seng yang tertiup angin. Maksudku, sesepi itu Bandung kali ini, aku hampir tidak mengenalinya.

Oh, ya, Bandung juga si misterius, aku pernah menaruh hati pada seseorang, mari kita sebut dia Batagor atau Siomay? Tapi aku lebih suka Basmut. Sekeping rasa yang pernah meluluhlantakkan hari-hariku, hampir saja aku menyerah karena si Basmut, aku perkenalkan dia pada hampir seluruh duniaku dan dia berhasil memilikiku sebanyak itu, menggantungkan harapan-harapan indah sekali di balik bumbu tabur keju dan bubuk cabainya itu, bahkan aku lebih terbuai dengan ucapannya daripada kalam-kalam Tuhan tentang surga. Lalu, duar.... meledaklah aku menjadi serpihan-serpihan tak berguna, sedangkan harumnya dia masih menjadi favorit sebagian orang. Namun, aku tetap berterima kasih pada Basmut, karena jika tidak ada takdir bertemu aku tidak mungkin merasakan rasa paling enak dan paling tajam selama hidupku, bahkan Seblak saja tidak mampu menembusnya. Kisah ini mampu kuceritakan saat semuanya telah berakhir, karena aku lebih suka untuk berkisah tentang sesuatu yang telah usai daripada yang sedang berlangsung.

Baiklah, aku akhiri tujuh hari di Bandung, aku berpamitan pada taman Panthere, Gegerkalong, Dago, Cihampelas, Braga, Kebon Kawung, Lembang, Pitaloka dan Dim. Aku lupa apakah aku benar-benar berpamitan dengan Dim atau tidak, ah sudahlah kuyakin dia juga tidak mengingatnya. Aku akan ke Jogja, bukan untuk mengukir kenang lagi, tapi untuk menyampaikan sebuah pamit, atau menyapa sanak saudara untuk pertama kalinya, senang rasanya ada rumah di tempat jauh. Dan setelah itu, segalanya telah dilepaskan, aku bebas, aku tak terikat pada Bandung lagi, pada Basmut, Cireng, Surabi, Borma, atau terminal Ledeng. Aku adalah aku dan segala yang telah diikhlaskan.

 

Selamat tidur, Medan.

Comments

Popular Posts