Titik

Di hadapan gubuk reot bersenandung kidung macapat dari diri bocah tiga belas tahun riang memegang gunduh. Sampai dua puluh lima tahun usiaku pun aku tak mampu memahami sebait saja tembang itu, merona pipiku kala ia meminta untuk melanjutkan liriknya.

"Mas e meneng wae. Piye toh?"

Setidaknya kata-kata itu mampu kupahami meski perlahan dan membutuhkan waktu cukup lama sampai ia mengerutkan dahinya dan bersedekap di sampingku. 

Kukusing dupa kumelun…

Ngeningken tyas kang apekik…

Kawengku sagung jajahan…

Nanging saget angikipi…

Sang resi kanake puta…

Kang anjog saking wiyati…

Kali ini sepertinya lagu yang berbeda, nadanya juga tak sama dengan yang tadi dinyanyikan. Kuiringi sedikit siul yang kerap membuatnya protes sebab aku salah mengalunkan nada. Ya jelas saja, belum pernah aku dengar lagu itu.

"Dik, kamu tau lagunya BTS?"

" Yo tau mas, kancahku demennya BTS kabeh."

"Coba nyanyiin dikit lagunya."

"Mbuh, ra iso bahasa Korea."

"Nama personilnya?"

"Mbuh juga hahaha"

Kami tertawa saling melempar lelucon, hingga bayangan ilalang melukis rupanya di antara wajah.

Sudah cukup gelap, saatnya kembali ke rumah. Kami berdua sama takutnya dengan suasana gubuk kala matahari mulai tenggelam. Rumornya seorang nenek tua miskin pernah gantung diri di sini, dan ketika hari gelap ia kerap menampakkan dirinya. 

Seminggu yang lalu pak Kusno lari terbirit-birit sehabis melewati gubuk ini pada malam hari. Katanya mbah Sirna muncul, mbah Sirna sedang menanam singkong ketika ia melihatnya. Aku dan Topan saling berpandangan dengan mimik yang sama, muka Topan memucat tak kalah pucat dengan mukaku. Malam itu pun kami berdua terjaga, mencurigai setiap bunyi yang terdengar walau itu suara tikus kawin.

Segera kami bergegas, kumenoleh sekali lagi untuk memeriksa segala barang. Benar, semakin dilihat semakin mencekam suasananya.

"Mas, habis maghrib nanti aku mau ngaji di musholla yo."

"Iya, kamu rajin banget ibadahnya, biar apa sih?"

"Lah... mas e kok nanya begitu. Emang mas e ga pernah ngaji toh?"

"Engga"

"Sholat?"

"Engga juga. Lagian ngapain? Kamu percaya Tuhan? Dik, bumi ini terbentuk dengan kekuatan alam, sudah dijelaskan dengan sains bahwa dunia ini terbentuk diawali dengan Nebula dan ledakan Supernova, lalu terbentuklah alam semesta, planet, makhluk hidup, kamu, aku."

"Termasuk hantunya mbah Sirna?"

"Ha? Mbah Sirna?"

"Iya, mbah Sirna kan dulunya manusia. Terus kenapa dia jadi hantu? Apa kata sains? Apa sains juga menjelaskan tentang kehidupan setelah di dunia?"

"Aku tidak tau. Nanti akan kubaca lagi."

"Mas... mas... mas e lucu, ga percaya Tuhan tapi percaya sama hantu."

Kulihat binar bintang Vega di rasi Lyra, ada juga Crux, ah langit malam ini indah sekali. Apakah benar bahwa makhluk mega bernama Tuhan yang menciptakan semua ini?

Comments

Popular Posts