Aku
Perjalanan ini memang panjang dari Lembang menuju Asia-Afrika, sedikit rintik tapi aku tak mau berhenti.
Kau meringkuk di belakang punggungku
"Rasakan!" Batinku.
Kita tetap melaju di antara deru tangismu dan detak jantungku.
Jalan-jalan ini yang biasa kau lalui dengan kekasihmu, bukan? Dan warung bakso itu juga. Kau memesan semangkok bakso dengan mi bihun, tidak lupa bawang goreng yang lebih banyak. Aku juga memesan yang sama seperti dia, mi tanpa bakso dan sengaja tak menambahkan sambal.
"Rasakan! Kau mengenang lagi!" Batinku selalu saja ingin mengutukmu
Sekarang kita sudah di alun-alun, memandangi kerlap kerlip Bandung malam hari.
"Kamu suka capung, ga?" Tanyaku
"Engga."
"Kalau gitu kamu harus suka!"
"Kenapa?"
"Karena aku suka. Kamu juga harus suka nasi goreng, musik rock, sama mancing."
Kau hanya tersenyum, tak sepatah kata terlontar. Aku memang payah dalam berkata-kata, tak seperti mantan kekasihmu.
"Gilang"
"Ya, Na."
"Sudah cukup kamu menghukumku seperti ini. Kamu bukan dia"
"Tapi ajarin aku masuk ke hatimu sedalam dia"
"Kamu yang milikku sekarang, bukan dia."
Malam ini kita ke mana lagi? Aku ingin duduk di Braga tempat kita pertama bertemu. Betul katamu bahwa yang memiliki hatimu sekarang adalah aku. Bisakah kita ulang dari awal untuk aku mengenalkan diri sebagai aku bukan dia?
Kau meringkuk di belakang punggungku
"Rasakan!" Batinku.
Kita tetap melaju di antara deru tangismu dan detak jantungku.
Jalan-jalan ini yang biasa kau lalui dengan kekasihmu, bukan? Dan warung bakso itu juga. Kau memesan semangkok bakso dengan mi bihun, tidak lupa bawang goreng yang lebih banyak. Aku juga memesan yang sama seperti dia, mi tanpa bakso dan sengaja tak menambahkan sambal.
"Rasakan! Kau mengenang lagi!" Batinku selalu saja ingin mengutukmu
Sekarang kita sudah di alun-alun, memandangi kerlap kerlip Bandung malam hari.
"Kamu suka capung, ga?" Tanyaku
"Engga."
"Kalau gitu kamu harus suka!"
"Kenapa?"
"Karena aku suka. Kamu juga harus suka nasi goreng, musik rock, sama mancing."
Kau hanya tersenyum, tak sepatah kata terlontar. Aku memang payah dalam berkata-kata, tak seperti mantan kekasihmu.
"Gilang"
"Ya, Na."
"Sudah cukup kamu menghukumku seperti ini. Kamu bukan dia"
"Tapi ajarin aku masuk ke hatimu sedalam dia"
"Kamu yang milikku sekarang, bukan dia."
Malam ini kita ke mana lagi? Aku ingin duduk di Braga tempat kita pertama bertemu. Betul katamu bahwa yang memiliki hatimu sekarang adalah aku. Bisakah kita ulang dari awal untuk aku mengenalkan diri sebagai aku bukan dia?
Comments
Post a Comment