Maaf

Menjelang malam, aku ini entah apa namanya
Meramu asa demi asa dari tiap satuan kubik udara di sudut ruangan
Menghitung tujuh, delapan, sembilan dan seterusnya
Barangkali ada dari antara mereka mampu menghantarkanku pada lelap yang berujung temu.

Sudah dua pekan rupanya tak mampu lagi kutatap, alisnya, mata dan simpul senyumnya menjadi yang paling kurindukan. Bagaimana bisa kulupa, aku jatuh cinta dimulai dari situ, barulah merangkap pada suaranya, ucapannya, pikirannya, depresinya, bangsatnya, dan omong kosongnya. Ah, aku terlalu jatuh cinta padanya.

Terakhir kali ia datang dengan sesuatu yang pincang. Namun seperti biasa ia tersenyum dan aku luluh. Di beranda ia menggenggam tanganku kuat, kuat sekali hingga rasanya tulangku mau patah.

"Maaf." Katanya
"Maaf." Ulangnya

Kuingat ada tiga kali ia mengucapkan kata itu, tapi tetap saja tanganku tak kunjung dilepas. Sebenarnya sakit, aku meronta dalam hati untuk dilepaskan, tapi kutahu ia lebih sakit.
Sekelebat diletakkannya tanganku di antara dahi dan hidungnya, diciuminya telapak dan punggung tanganku, dan kudengar isak yang tak begitu kuat.

"Sudahlah, aku yang salah." Sahutku terisak
"Tapi kamu benar, aku terlalu jahat. Maaf."
"Tapi, aku juga sudah melakukan hal yang paling kejam, dengan menggantikanmu dengan lelaki itu. Maaf."

Dia, Adam namanya, lelaki yang lima tahun lalu kukenal di sebuah galeri seni. Malam itu, akhirnya aku mampu melepasnya. Seharusnya aku bahagia mengingat entah berapa kali dibuatnya aku terseok seok mempertahankan hubungan ini, nahas, aku kerap luluh dipelukannya. Adam, sekali saja merasa menjadi aku, dan apa yang terjadi? Ia tidak mampu rupanya. Kukoyakkan hatinya, yang seribu kali ia katakan bahwa aku adalah wanita yang paling dicintainya, omong kosong itu ia ucapkan tiap kali setelah ia berhasil membuat derai di pipiku.

Adam, andai kau tahu bukan hanya kau yang berharap kita kan berujung satu lagi, aku juga begitu. Namun, kupikir hati kita sudah sama-sama parah lukanya, tak ada jalan lain lagi selain merelakan kita dalam pilihan masing-masing. Benar, hari-hari yang pernah kita lewati sebagian adalah indah, tapi sebagiannya lagi aku tak ingat bahwa aku punya kau yang seharusnya mampu selamatkanku dari hari-hari burukku kemarin, kau tak akan pernah tahu sampai ada seseorang yang ada datang dengan tangan terbuka dan menuntunku bahagia. Ke mana saja kau?

Dilepaskannya tanganku, terlihat seluruh wajahnya memerah. Terakhir, ia memberikan senyuman itu sekali lagi dan jatuhlah aku sejatuh-jatuhnya malam itu. Ia melaju setelahnya, pundaknya menghilang di balik kegelapan.

Sekarang tinggallah aku, dia entah bagaimana, kuharap dia akan selalu baik-baik saja.

Adam, saya rindu.

Comments

Post a Comment

Popular Posts