Jalang

Ia menatapku lama, menyimpul senyum dari bibirnya yang tipis, ia begitu tampan malam ini, meskipun sebuah jerawat sedang mekar-mekarnya di pipi kiri. Ia tetap yang paling tampan.

"Pipi kamu merah"
"Jangan dilihatin gitu dong"
"Emang kenapa?"
"Malu atuh"
"Hehe"

Lalu ia menarik napas panjang dan melemparkan pandangan ke depan.

"Dim"
"Ya, Din"
"Seandainya kita ga berjodoh gimana?"

Ia terdiam dengan tatapan masih ke arah depan.

"Seandainya kita ga berjodoh? Hmmm... Aku akan mencarikan kamu laki-laki yang seperti aku"
"Kok seperti kamu? Kenapa?"
"Kenapa? Aku kira kamu suka aku"
"Aku memang suka kamu"
"Yaudah, begitu"
"Tapi aku ga mau yang lain, walaupun seperti kamu. Aku maunya kamu!"
"Trus... Aku tanya balik, seandainya kita gak berjodoh gimana?"
"Aku akan berdoa kepada Tuhan, agar kamu jodohku"
"Kamu percaya Tuhan rupanya."
"Iya, ketika aku tau kalau kamu bukan jodohku"

Braga tak sedingin yang mereka rasakan, paling tidak suasananya mampu membuat otakku memutar kembali percakapan kecil dengan Dimas di pinggir kota tahun lalu.

Tak. Tok. Tak. Tok

"Kamu mabuk berat, ayo aku antar ke kamar"
"Tidak, sebentar lagi Dimas datang menjemputku"
"Dimas lagi, Dimas lagi. Aku capek mengatakannya kalau dia sudah mati dibunuh ayahmu!"
"Dia masih hidup, Dimasku masih hidup!"
"Sudahlah, cepetan, pelangganmu akan datang setengah jam lagi, bersikap normal lah."

Aku menyeka air mataku, berjalan melewati bilik-bilik remang.

Selamat malam, Dimas.

Comments

Popular Posts