Yang sebenarnya tidak ingin diingat
Di suatu waktu, ketika bias matahari cenderung ke Utara.
Di bawah kaki langit, di atas batuan berdebu.
Si dungu dengan riasan seadanya sedang berharap temu pada sebuah rupa sewarna Agustus.
Setelah melintasi jutaan partikel udara,
batinnya terkesiap pada sepasang tatap yang tidak malu-malu.
Sayangnya, si rupa Agustus tak peduli akan degup yang sedari tadi menggerus.
Hingga saat ini yang tertinggal hanyalah penunjuk waktu yang terlanjur diberi.
Juga terpaut sisa rindu terbentang spasi.
Ya pantas lah!
Mereka diciptakan hanya untuk sebuah alasan,
Untuk menjadi pelaras cerita hidup
Dalam singkatnya perjalanan.
Sebab, perbedaan adalah sang tokoh utama.
Tanpa pernah tau bahwa
Si rupa Agustus adalah pecinta semesta
Dan si dungu pengagum aksara.
Di bawah kaki langit, di atas batuan berdebu.
Si dungu dengan riasan seadanya sedang berharap temu pada sebuah rupa sewarna Agustus.
Setelah melintasi jutaan partikel udara,
batinnya terkesiap pada sepasang tatap yang tidak malu-malu.
Sayangnya, si rupa Agustus tak peduli akan degup yang sedari tadi menggerus.
Hingga saat ini yang tertinggal hanyalah penunjuk waktu yang terlanjur diberi.
Juga terpaut sisa rindu terbentang spasi.
Ya pantas lah!
Mereka diciptakan hanya untuk sebuah alasan,
Untuk menjadi pelaras cerita hidup
Dalam singkatnya perjalanan.
Sebab, perbedaan adalah sang tokoh utama.
Tanpa pernah tau bahwa
Si rupa Agustus adalah pecinta semesta
Dan si dungu pengagum aksara.
Comments
Post a Comment